ANALISIS STRUKTURALISME GENETIK NOVEL KETIKA CINTA BERTASBIH 1

BAB I
PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Suatu karya sastra tercipta tidak dalam kekosongan sosial budaya, artinya, pengarang tidak dengan tiba-tiba mendapat berkah misterius, kemudian dengan elegannya mencipta suatu karya sastra. Suatu karya sastra tercipta lebih merupakan hasil pengalaman, pemikiran, refleksi, dan rekaman budaya pengarang terhadap sesuatu hal yang terjadi dalam dirinya sendiri, dan masyarakat.
Karya sastra itu ditampilkan dalam bentuk puisi, prosa, dan prosa liris. Dalam bentuk prosa karya sastra muncul dalam bentuk cerpen, novel, biografi, dan otobiografi. Jadi salah satu bentuk karya sastra berupa prosa adalah novel.
Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang mampu memberikan manfaat yang besar bagi perkembangan kemanusiaan dan kehidupan manusia. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang seringkali kita dengar bahwa novelis dapat mengajarkan lebih banyak tentang sifat-sifat manusia dari pada psikologi- the novelist can teach you more about human nature than the psychologist (Wellek, 1993:34). Para novelis menampilkan pengajarannya melalui berbagai tema dan amanat dalam novelnya, tema kemanusiaan, sosial, cinta kasih, ketuhanan, dan sebagainya.
Sastra mempunyai dua watak, yaitu watak universal dan watak lokal (Budi Darma,1999:54). Dikatakan universal dilihat dari dari temanya, karena, dimanapun, kapanpun dan oleh siapapun ditulis pada hakekatnya sama, yaitu seputar cinta kasih, kebahagiaan, ketidakadilan dan lain-lain, hal-hal itulah yang selalu menguasai tema sastra, damanapun, kapanpun, dan oleh siapapun. Dikatakan bersifat lokal karena, meskipun berwatak universal tetapi ciri-ciri lokal, waktu (zaman) pasti ada di dalamnya seperti yang kita kenal dalam periodisasi sastra (sastra lama dan modern). Sastra satu negara dengan sastra negara lain meskipun temanya sama pasti berbeda, sastra suatu bangsa disuatu masa atau kurun waktu yang sama, di negara yang sama, akan menghasilkan karya sastra yang berbeda pula.
Di samping itu faktor pribadi masing-masing pengarang. Tema yang sama digarap oleh dua orang pengarang berbeda pada suatu kurun waktu yang sama, di suatu negara yang sama, akan menghasilkan karya sastra yang berbeda pula (Budi Darma, 1999:54).
Misalnya tema cinta, cinta itu universal, cinta ada disegala zaman dan disegala tempat, karya sastra yang bertema cinta baik dalam bentuk puisi, cerpen, novel, drama selalu lahir dari para sastrawa. “Novel Ketika Cinta Bertasbih” buah karya Habiburrahman El Shirazy adalah karya sastra menggarap tema universal pula yaitu cinta, terdiri dari dua seri (Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2). Dia menggunakan majas personifikasi dalam judulnya seakan-akan cinta adalah mahluk hidup yang berakal lalu bisa mengucap tasbih (Subhanallah).
Sastra sebagai sebuah karya seni menyodorkan suatu yang menyenangkan, menghibur dan dalam sifatnya yang beragam dan bermanfaat karya sastra memberi pelajaran, pendidikan dan pendalaman moral atau akhlakul karimah. Teori sastra bertugas menjelaskan hakikat dan fungsi karya sastra, diantara teori untuk menjelaskan karya sastra itu adalah teori strukturalisme.
Menurut Nyoman Kutha (2008:91). Strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu berdiri dengan mekanisme antar hubungannya, disatu pihak antara hubungan unsur yang satu dengan unsur yang lainnya, dilain pihak hubungan antara unsur-unsur dengan totalitasnya.
Jadi berdasarkan pengertian strukturalisme tersebut analisis yang berdasarkan teori ini memberikan perhatian terhadap unsur-unsur karya sastra. Pendekatan yang biasa dipakai dalam mendekati suatu karya sastra-apakah dalam bentuk puisi, cerpen, novel, dan novel adalah pendekatan intrinsik dan ekstrinsik.
Unsur intrinsik ini melihat karya sastra dari unsur formal yang membangunnya, seperti tema, peristiwa atau kejadian, latar atau setting, penokohan atau perwatakan, alur atau plot, sudut pandang dan gaya bahasa (Nyoman Kutha, 2008:95). Dan unsur eksternal adalah unsur di luar karya sastra itu yang dapat membantu memahami dan menganalisisnya seperti latar belakang budaya, agama dan pendidikan penulis karya sastra tersebut. Hal ini karena dunia sastra adalah dunia imajinatif, hasil percampuran pengalaman, imajinasi, dan wawasan pengarang.
Dengan demikian hubungan antara karya sastra dengan pengarangnya sangatlah saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Sebuah karya sastra tidak mungkin ada secara tiba-tiba jika tidak ada yang menciptakannya. Dan kualitas sebuah karya sastra bisa dilihat dari pengarangnya. Contohnya saja pengarang penghuni pesantren melahirkan sastra pesantren. pengarang sebagai antropolis bergandengtangan dengan sastra dalam memahami kehidupan manusia. Pengarang multikultural tergambar dalam kehidupan dunia sastra multicultural. Sebagaiman dikatakan:
“Pengarang memiliki posisi yang sangat menentukan. Pada umumnya unsure-unsur kepengarangan dikaitkan dengan asumsi struktur rohaniah, seperti:kapasitas intelektual dan logika, kualitas moral dan spiritual, fungsi-fungsi didaktis dan ideologis. Pengarang dipandang sebagai subjek yang memilki kompetensi yang paling memadai dalam menghasilkan sebuah karya sastra”. (Dr. Nyoman Kutha Ratna,2009:194)

Namun di samping itu sastra juga tidak terlepas dari manusia karena keduanya memiliki hubungan yang takkan terpisahkan, manusia merupakan objek penceritaan terbesar dalam sebuah karya sastra terutama novel.
“manusia serta kehidupannnya persoalan yang selalu menarik dibahas. Sastra berisi manusia dan kehidupannya. Manusia dan kehidupannya berkait rapat dengan kehidupan sastra. Manusia menghidupi sastra. Kehidupan sastra adalah kehidupan manusia. Manusia beragam melahirkan hubungan sastra dan agama” (Antilan Purba,2009:2)

Begitupun kaitan karya sastra dengan Sang Pencipta, jika seorang pengarang yang berjiwa agamais maka ia akan menciptakan sastra yang sarat akan ajaran agama, dan bagiaman dalam sebuah karya sastra nilai ketuhanan para pengarang berusaha memaparkan kaidah-kaidah agama di dalam karya sastra yang diciptakannya. Contohnya saja novel Ketika Cinta Bertasbih ini.
Penelitian terhadap novel Ketika Cinta Bertasbih 1 dilakukan dengan menggunakan pendekatan strukturalisme genetik. Pendekatan ini memandang sebuah karya sastra dari struktur intrinsik, pandangan sosial kelompok pengarang, dan kondisi eksternal pengarang untuk menemukan world vision atau pandangan dunia (Wuradji, 2000:61).
Pandangan dunia pengarang yang tertuang dalam novel ini patut untuk diketahui, sejauh mana gambarannya. Di samping itu, faktor sosial budaya dan latar belakang (genetika) apakah yang membuat pengarang menelurkan novel ini. Hal ini perlu diketahui karena bagaimanapun pengarang pasti punya landasan kuat dan argumen dalam kapasitasnya sebagai salah satu individu kolektif yang merasakan dan mengetahui problem-problem sosial budaya dalam masyarakat Mesir dan Indonesia.

Struktur karya sastra mengarahkan pada pengertian hubungan antara unsur-unsur pembangunnya (intrinsik) yang bersifat timbal Mesirk, saling menentukan, saling mempengaruhi, dan secara bersama-sama membentuk saatu-kesatuan yang utuh (Nurgiantoro, 1995:36).
Novel Ketika Cinta bertasbih ini merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang kental dengan aspek-aspek religius.
Dan hal yang membuat penulis tertarik untuk menganalisis karya sastra berjudul Ketika Cinta Bertasbih adalah karena karya ini begitu akrab dengan dunia penulis yang berlatar belakang santri, judulnya mengesankan cinta yang diridhoi Allah di mana cinta pun dapat bertasbih, mengucapkan Subhanallah (Maha Suci Allah). Dan kedua novel ini adalah karya baru di ranah kesastraan Indonesia, seorang penulis berlatar belakang santri yang mampu memberi spirit dan nuansa keislaman yang kental dalam kehidupansehingga dijadikan film oleh perusahhan film Sinemart Picture, mengikuti sukek film Ayat-Ayat Cinta yang meraih empat juta penonton dalam empat bulan.
Sesuai dengan beberapa argumen dan latar belakang di atas, maka peneliti memberi judul penelitian ini, Analisis Strukturalisme Genetik Novel Ketika Cinta Bertasbih.
1. 2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah strukturalisme genetik novel Ketika Cinta Bertasbih 1 Karya Habiburrahman El-Shirazy”.
1. 3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan strukturalisme genetik novel Ketika Cinta Bertasbih 1 Karya Habiburrahman El Shirazy.
1. 4 Manfaat Penelitian
Manfaat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Manfaat teoritis penelitian ini diharapkan dapat membantu perkembangan penggunaan teori sastra khususnya teori strukturalisme genetik dan penggunaannya di dalam analisis sebuah karya sastra.
b. Manfaat praktis penelitian ini adalah memperkaya wawasan peneliti pada khususnya, dan pembaca pada umumnya tentang seluk-beluk sebuah karya sastra ditinjau dari strukturalisme genetiknya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2. 1 Pengertian Analisiss
Pengertian analisis menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dsb) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (Depdiknas, 2001: 43). Menurut Zaidan, analisis merupakan penguraian karya sastra secara terinci atas unsur-unsurnya dan pertalian antara unsur-unsur itu (Zaidan, 1996:29). Sedangkan menurut Nurgiantoro, istilah analisis – misalnya analisis karya fiksi - menyaran pada pengertian mengurai karya itu atas unsur-unsur pembentuknya yang berupa unsur-unsur intrinsiknya (Nurgiantoro, 2002:30).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka pengertian istilah analisis dalam tulisan ini menyaran pada telaah terhadap suatu karya sastra dengan menguraikan unsur-unsur pembangun atau pembentuknya serta pertalian antara unsur-unsur tersebut.
Strukturalisme genetik adalah sebuah pendekatan di dalam penelitian sastra yang lahir sebagai reaksi dari pendekatan strukturalisme murni. Dalam tulisan ini, pengertian strukturalisme genetik mengacu pada pendapat Iswanto dalam Wuraji (2001:34) yaitu pendekatan penelitian sastra yang mengkonstruksikan pandangan dunia pengarang dengan memasukkan faktor genetik karya sastra artinya asal-usul karya sastra.


2. 2. Pengertian Novel
Istilah novel kini identik dengan novel. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “karangan prosa yang melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing”. Nurgiantoro mengemukakan pengertian novel sama dengan novel yaitu:
Novel (Inggris: novel) dan cerita pendek (disingkat: cerpen;Inggris: short story) merupakan dua bentuk karya sastra yang sekaligus disebut fiksi. Bahkan dalam perkembangannya yang kemudian, novel dianggap bersinonim dengan fiksi. Dengan demikian, pengertian fiksi seperti dikemukakan di atas, juga berlaku untuk novel. Sebutan novel dalam bahasa Inggris – dan inilah yang kemudian masuk ke Indonesia – berasal dari bahasa Itali novella (yang dalam bahasa jerman novelle). Secara harfiah novella berarti ‘sebuah barang baru yang kecil’, dan kemudian diartikan sebagai ,cerita pendek dalam bentuk prosa’ (Abrams, 1981: 119). Dewasa ini istilah novella dan novelle mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia novelet (Inggris: novelette), yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek (Nurgiantoro, 2002: 9).

Selanjutnya Zaidan juga mendefinisikan novel sama dengan novel yaitu :
Jenis prosa yang mengandung unsur tokoh, alur, latar rekaan yang menggelarkan kehidupan manusia atas dasar sudut pandang pengarang, dan; mengandung nilai hidup, diolah dengan teknik kisahan dan ragaan yang menjadi dasar konvensi penulisan.

Dengan demikian novel yaitu karangan yang melukiskan perbuatan pelakunya menurut isi dan jiwanya masing-masing yang diolah dengan teknik kisahan dan ragaan yang menjadi dasar konvensi penulisan.
2. 3 Teori Strukturalisme Genetik
2. 3. 1 Teori Genetika
Genetika (dari bahasa Yunani γέννω atau genno yang berarti "melahirkan") merupakan cabang biologi yang penting saat ini. Ilmu ini mempelajari berbagai aspek yang menyangkut pewarisan sifat dan variasi sifat pada organisme maupun suborganisme (seperti virus dan prion). Ada pula yang dengan singkat mengatakan, genetika adalah ilmu tentang gen. Nama "genetika" diperkenalkan oleh William Bateson pada suatu surat pribadi kepada Adam Chadwick dan ia menggunakannya pada Konferensi Internasional tentang Genetika ke-3 pada tahun 1906.
Berdasarkan ilmu biologi gen adalah sifat yang diwariskan atau diturunkan dari orang tua, sedangkan kaitannya dengan dunia sastra adalah bagaimana pengaruh genetika atau latar belakang pegarang dalam menciptakan karya sastra.
2. 3. 2 Teori Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann

Secara defenitif stukturalisme genetik adalah analisis struktur dengan memberikan perhatian terhadap asal-usul karya (Ratna,2004:123). Strukturalisme genetik ditemukan oleh Lucien Goldmann, seorang filsuf dan sosiolog Rumania-Perancis. Teori tersebut dikemukakan dalam bukunya yang berjudul The Hidden God: a Study of Tragic Vision in the Pensees of Paskal and the Tragedies of Racine (Ratna, 2004:121-122).
Goldmann percaya bahwa karya sastra merupakan suatu struktur, inilah yang terkandung dalam pengertian strukturalisme. Tetapi struktur itu bukanlah suatu yang statis, melainkan dinamis karena merupakan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung yang dihayati oleh masyarakat dimana karya sastra itu berada. Sedangkan istilah genetik mengandung pengertian bahwa karya sastra itu mempunyai asal-usulnya ( genetik ) di dalam proses sejarah atau masyarakat.
Lebih jauh Goldmann dalam Faruk (2003:12) membangun seperangkat kategori yang saling bertalian satu sama lain untuk menopang teorinya tersebut sehingga membentuk apa yang disebutnya strukturalisme genetik. Beberapa konsep dasar yang dikemukakan oleh Goldmann yang berkaitan untuk membentuk strukturalisme genetik tersebut antara lain : fakta kemanusiaan, pandangan dunia, struktur karya sastra, dialektika pemahaman-penjelasan.
1. Fakta kemanusiaan adalah segala hasil aktifitas atau perilaku manusia baik yang verbal maupun yang fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan. Fakta itu dapat berwujud aktivitas sosial tertentu, aktivitas politik tertentu, maupun kreasi kultural seperti filsafat, seni rupa, seni musik, seni patung, dan seni sastra.
2. Subjek kolektif atau trans-individual merupakan konsep yang masih sangat kabur. Subjek kolektif itu dapat berupa kelompok kekerabatan, kelompok sekerja, kelompok teritorial, dan sebagainya. Subjek kolektif itulah yang merupakan subjek karya sastra yang besar.
3. Pandangan dunia. Yang dimaksud pandangan dunia adalah hubungan antara struktur karya sastra dan struktur masyarakat merupakan hubungan yang dimediasi oleh ideologi masyarakat. Pandangan dunia merupakan istilah yang cocok bagi kompleks menyeluruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi, dan perasaan-perasaan, yang menghubungkan secara bersama-sama anggota-anggota suatu kelompok sosial tertentu dan yang mempertentangkannya dengan kelompok-kelompok sosial yang lain.
4. Struktur karya sastra. Dalam konteks strukturalisme genetik, konsep struktur karya sastra berbeda dari konsep struktur yang umumnya dikenal. Konsep struktur dalam struktualisme lebih bersifat tematik. Yang menjadi pusat perhatiannya adalah relasi antar tokoh dengan tokoh dan tokoh dengan objek yang ada di sekitarnya.
5. Dialektika pemahaman-penjelasan. Sudut pandang dialektik mengukuhkan perihal tidak pernah adanya titik awal yang secara mutlak sahih. Oleh karena itu, dalam sudut pandang dialektik tersebut pikiran tidak pernah bergerak seperti garis lurus. Sehubungan dengan itu, metode dialektik mengembangkan dua konsep, yaitu keseluruhan-bagian dan pemahaman-penjelasan. (http//www.toak. co.cc/2009/06/strukturalisme-genetik.html)

Pendekatan strukturalisme genetik pertama kali dikemukakan oleh Lucien Goldman, seorang ahli sastra berkebangsaan Perancis. Pendekatan strukturalisme genetik merupakan satu-satunya pendekatan yang mampu merekonstruksikan pandangan dunia pengarang (Wuradji, 2001:63).
Latar belakang sejarah, zaman, dan sosial masyarakat berpengaruh terhadap proses penciptaan karya sastra, baik dari segi isi maupun bentuknya atau strukturnya. Keberadaan pengarang dalam masyarakat tertentu turut mempengaruhi karyanya. Dengan demikian suatu masyarakat tertentu yang menghidupi pengarang dengan sendirinya akan melahirkan suatu jenis sastra tertentu pula.
Menurut Wuradji, kecenderungan tersebut didasarkan atas adanya suatu asumsi bahwa tata kemasyarakatan bersifat normatif, artinya mengandung unsur pengatur yang mau tidak mau harus dipatuhi. Pandangan, nilai, dan sikap tentu saja dipengaruhi oleh tata kemasyarakatan yang berlaku dan merupakan faktor yang turut menentukan apa yang harus ditulis pengarang, untuk siapa karya itu ditulis, dan apa tujuan penulisan karya sastra tersebut (Wurajdi, 2001: 63).
Selanjutnya dijelaskan oleh Goldman bahwa terdapat dua kelompok karya sastra. Karya sastra yang dihasilkan oleh kelompok pengarang utama adalah karya sastra yang sebangun dengan struktur kelompok atau kelas sosial tertentu. Sedangkan karya sastra kelompok pengarang kelas dua adalah karya sastra yang isinya sekedar reproduksi segi permukaan realitas sosial dan kesadaran kolektif (Wurajdi, 2001:64).
Goldman (dalam Wuradji, 2001:64) menyarankan agar penelitian sastra yang menggunakan pendekatan strukturalisme genetik menggunakan karya pengarang utama karena sastra yang dihasilkannya merupakan karya agung (masterpeace) yang di dalamnya mempunyai tokoh problematik (problematic hero) atau mempunyai wira yang bermasalah dan berhadapan dengan kondisi sosial yang memburuk (degraded) serta berupaya mendapatkan nilai yang sahih (authentic value). Pandangan dunia pengarang akan dapat terungkap melalui problematic hero-nya.
Pandangan dunia yang ditampilkan pengarang melalui problematic hero merupakan suatu struktur global yang bermakna. Pandangan dunia ini bukan semata-mata fakta empiris yang bersifat langsung tetapi merupakan suatu gagasan, aspirasi, dan perasaan yang dapat mempersatukan suatu kelompok sosial masyarakat. Pandangan dunia itu memperoleh bentuk konkret di dalam karya sastra. Pandangan dunia bukan fakta. Pandangan dunia tidak memiliki eksistensi objektif akan tetapi merupakan ekspresi teoritis dari kondisi dan kepentingan suatu golongan masyarakat tertentu (Wurajdi, 2001: 64).
Berdasarkan uaraian tersebut maka dapat dikatakan bahwa pendekatan strukturalisme genetik memiliki aspek-aspek yang sangat bermanfaat dalam mengungkapkan makna sebuah karya sastra. Karena selain menguraikan unsur intrinsiknya juga lebih cermat mengangkat aspek-aspek sosiologis, serta menyadari sepenuhnya bahwa karya sastra itu dihasilkan melalui proses kreativitas dengan mengedepankan aspek imajinasi.
Selanjutnya Wurajdi (2001:64) memaparkan bahwa secara sederhana penelitian dengan pendekatan strukturalisme genetik dapat diformulasikan sebagai berikut. Pertama, penelitian dimulai kajian struktur intriksik karya sastra baik secara parsial maupun keseluruhannya. Kedua, mengkaji latar belakang sosial kelompok pengarang. Ketiga, mengkaji latar belakang sosial dan sejarah yang turut mengkondisikan karya sastra saat diciptakan oleh pengarangnya. Selanjutnya mencari premis-premis khusus dalam rangka menemukan premis umum, sebagai kesimpulan.
Melihat pendapat dari para ahli maka analisis genetic artinya pengaruh latar belakang pengarang terhadap karya sastra yang akan diciptakannya. Begitu pun dengan Novel Ketika Cinta Bertasbih, banyaknya nuansa islami yang terkandung dalam novel ini dikarenakan pengarangnya adalah seorang dai dan mahsiswa lulusan Al-Azhar Kairo-Mesir.
2. 4 Struktur Intrinsik Sastra
Unsur-unsur intrinsik karya sastra novel meliputi : tema, alur atau plot, penokohan dan perwatakan, latar atau setting, amanat, sudut pandang, dan gaya bahasa.
2. 4. 1 Tema dan Amanat
Zainuddin Fananie berpendapat bahwa tema adalah ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatarbelakangi ciptaan karya sastra (Zainuddin Fananie, 2002:84). Pendapat lain mengatakan, bahwa tema adalah gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan (Dick Hartoko&Rahmanto, 1986:142).
Senada dengan dua pendapat di atas, Burhan Nurgiyantoro juga mengatakan bahwa tema adalah dasar cerita, gagasan dasar umum, sebuah karya novel/novel. Gagasan dasar umum inilah yang tentunya telah ditentukan sebelumnya oleh pengarang yang dipergunakan untuk mengembangkan cerita.
Dengan kata lain, cerita tentunya akan setia mengikuti gagasan dasar umum yang telah ditetapkan sebelumnya sehingga berbagai peristiwa-konflik dan pemilihan berbagai unsur intrinsik yang lain dapat mencerminkan gagasan dasar umum (baca:tema) tersebut (Burhan Nurgiyantoro, 2002:70).
Sedangkan Menurut Stanton dan Kenny (dalam Nurgiyantoro, 2002 ) tema merupakan makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Dari pengertian tersebut dapat dikemukakan bahwa tema adalah gagasan dasar yang umum sebuah karya sastra (novel). Gagasan dasar umum itulah yang dipergunakan untuk mengembangkan cerita.
Analisis terhadap tema diusahakan untuk memahami cerita secara terpadu. Meskipun demikian, dalam sebuah karya sastra terkadang tidak hanya memuat satu tema. Karena itu, curahan perhatian sering tertuju pada bagian-bagian itu. Dengan kata lain, kemunculan motif yang berulang kali dapat dikatakan sebagai pengenalan terhadap tema utama dan tema bawahan atau tema-tema minor mempertegas tema mayor.
Dengan demikian, dapatlah disimpulkan bahwa tema adalah persoalan yang menduduki tempat utama dalam karya sastra. Tema dapat dibedakan menjadi dua yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor merupakan tema yang sangat menonjol dan tema minor adalah tema yang tidak menonjol.
Amanat adalah “gagasan yang mendasari karya sastra, pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar. Di dalam karya sastra modern, amanat ini biasanya tersirat dan di dalam karya sastra lama pada umumnya tersurat”(Panuti Sudjiman, 1984:5).
Tema dan amanat sangat erat kaitannya. Amanat merupakan pemecahan persoalan yang terkandung dalam tema. Amanat juga merupakan pesan yang ingin disampaikan pengarang dalam rangka menyelesaikan persoalan yang ada.
2. 4. 2 Alur atau Plot
Alur adalah rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan sebab akibat sehingga menjadi satu-kesatuan yang padu, bulat, dan utuh. Sebuah cerita merupakan rangkaian peristiwa. Peristiwa yang dirangkaikan tersebut adalah susunan peristiwa yang lebih kecil. Rangkaian kejadian itu tidak hanya disusun berdasarkan komposisi cerita melainkan bergerak berdasarkan hubungan sebab akibat.
Dengan demikian Teknik pengaluran menurut Sudiro Satoto (1992: 27-28) ada dua yaitu, dengan jalan progresif (alur maju) yaitu dari tahap awal, tahap tengah atau puncak, dan tahap akhir terjadinya peristiwa, yang kedua dengan jalan regresif (alur mundur) yaitu bertolak dari akhir cerita, menuju tahap tengah atu puncak, dan berakhir pada tahap awal. Tahap progresif bersifat linear, sedangkan teknik regresif bersifat non linear.
Ada juga teknik pengaluran yang disebut sorot Mesirk (flashback), yaitu urutan tahapannya diMesirk seperti halnya regresif. Teknik flashback jelas mengubah teknik pengaluran dari progresif ke regresif. “Teknik tarik Mesirk (back tracking), jenis pengalurannya tetap progresif, hanya pada tahap-tahap tertentu, peristiwanya ditarik ke belakang, jadi yang ditarik ke belakang hanya peristiwanya (mengenang peristiwa yang lalu), tetapi alurnya tetap maju atau progresif” (Sudiro Satoto, 1992:28-29).
Burhan Nurgiyantoro berpendapat unsur yang amat esensial dalam pengembangan sebuah alur adalah peristiwa, konflik, dan klimaks (Burhan Nurgiyantoro, 2002:16).
Berbeda dengan pandangan Agustien, alur terdiri atas beberapa bagian, yaitu :
a. Awal, yaitu pengarang mulai memperkenalkan tokoh- tokohnya.
b. Tikaian, yaitu terjadi konflik di antara tokoh-tokoh atau para pelakunya.
c. Gawatan atau rumitan, yaitu konflik tokoh-tokohnya semakin seru.
d. Puncak, yaitu saat puncak konflik di antara tokoh-tokohnya.
e. Leraian, yaitu saat peristiwa konflik semakin reda dan perkembangan alur mulai terungkap.
f. Akhir, yaitu saat seluruh peristiwa atau konflik telah terselesaikan (Agustien, 1990:27).
Pengaluran yaitu teknik atau cara-cara penampilan alur. Pengaluran dapat dibedakan menjadi beberapa bagian sebagai berikut :
1) Menurut kualitasnya, dapat dibagi menjadi :
a. Alur erat, yaitu alur yang tidak memungkinkan adanya percabangan cerita.
b. Alur longgar, yaitu alur yang memungkinkan adanya percabangan cerita.
2) Menurut kuantitasnya, pengaluran dibedakan menjadi :
a. Alur tunggal, yaitu alur yang terdiri atas satu alur dalam karya sastra.
b. Alur ganda, yaitu alur yang lebih dari satu dalam karya sastra.
3) Menurut urutan waktu, pengaluran dibedakan menjadi :
a. Alur lurus, yaitu alur yang melukiskan peristiwa-peristiwa dari awal hingga akhir cerita.
b. Alur tidak lurus, yaitu alur yang melukiskan peristiwa-peristiwa secara tidak urut dari awal hingga akhir cerita. Alur tidak lurus bisa menggunakan gerak Mesirk (back tracking), sorot Mesirk (flash back) atau campuran keduanya.
Selanjutnya berdasarkan jenisnya, alur dapat dibagi sebagai berikut :
1. ditinjau dari bagian yang memgakhiri cerita, alur dibagi menjadi :
a) Alur tertutup yaitu cerita berakhir dengan penyelesaian.
b) Alur terbuka yaitu cerita berakhir dengan klimaks.
2. ditinjau dari segi tokoh :
a) Alur sederhana, yaitu alur yang melibatkan satu kelompok tokoh atau seorang yang bersahaya dan pada akhir cerita mereka mengalami perubahan nasib.
b) Alur kompleks, yaitu alur yang melibatkan suatu kelompok tokoh. Cerita bermula dari satu tokoh, bergerak memungut tokoh lain, kemudian tokoh pertama mengambil tokoh lain, demikin seterusnya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa alur adalah rangkaian ceria yang dibentuk oleh tahapan peristiwa sehingga terjalin suatu cerita.
2. 4.3 Penokohan dan Perwatakan
Menurut Sudjiman, penokohan merupakan penciptaan citra tokoh di dalam karya sastra. Dalam kisah yang fiktif pengarang membentuk tokoh-tokoh yang fiktif secara meyakinkan sehingga pembaca seolah-olah merasa berhadapan dengan manusia yang sebenarnya (Sudjiman, 1984:42). Tokoh adalah pelaku dalam karya sastra. Dalam karya sastra biasanya ada beberapa tokoh namun pada umumnya ada satu tokoh utama. Tokoh utama tersebut adalah tokoh yang sangat penting dalam pengambilan peranan sebuah karya sastra.
Pegembangan penokohan meliputi dua aspek yaitu aspek penampilan dan aspek watak atau karakter. Adapun jenis tokoh ada dua yaitu tokoh datar (flash character) dan tokoh bulat (round character).
Tokoh datar adalah tokoh yang hanya menunjukkan satu segi saja, misalnya baik saja atau buruk saja. Sedangkan tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi, misalnya segi kebaikan, keburukan, kelemahan, dan sebagainya. Jadi, ada perkembangan yang terjadi pada tokoh tersebut.
Dari segi kejiwaan dikenal ada tokoh introvert dan ekstrovert. Tokoh introvert adalah pribadi tokoh yang ditentukan oleh ketidaksadarannya. Sedangkan tokoh ekstrovert adalah pribadi tokoh yang ditentukan oleh kesadarannya.
Dalam karya sastra dikenal juga tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang disukai oleh pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya. Sedangkan tokoh ekstrovert adalah tokoh yang tidak disukai oleh pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya.
Tokoh-tokoh cerita dalam sebuah cerita fiksi dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis penamaan berdasarkan dari sudut mana penamaan itu dilakukan.
Mochtar Lubis (1981:17) berpendapat bahwa cara–cara dalam mengamati tokoh dan melakukan penokohan sebagai berikut.
“Phisical description” (melukiskan bentuk lahir pelaku).
“Potrayal of thought stream or of conscious thought (melukiskan jalan pikiran pelaku-pelaku atau apa yang melintas dalam pikirannya. Dengan ini pembaca dapat mengetahui bagaimana watak pelaku itu).
1) “Reaction to event” (bagaimana reaksi pelaku itu terhadap kejadian).
2) “Direct author analysis” (pengarang dengan langsung menganalisis watak pelaku).
3) “Discussion of environment” (melukiskan keadaan sekitar pelaku.
Misalnya melukiskan keadaan kamar pelaku, pembaca akan mendapat kesan apakah pelaku itu jorok, bersih, rajin atau malas).
4) “Reaction of other about character” (bagaimana pandangan pelaku-pelaku lain terhadap pelaku utama).
5) “Conversation of other about character” (pelaku-pelaku lainnya dalam suatu cerita memperbincangkan keadaan pelaku terutama. Dengan tidak langsung pembaca dapat kesan tentang segala sesuatu mengenai pelaku terutama ini).
Sudiro Satoto berpendapat bahwa analisis penokohan dapat ditinjau dari beberapa dimensi yaitu, fisiologis, sosiologis dan psikologis. Dimensi fisioligis, yaitu ciri-ciri lahir misalnya usia (tingkat kedewasaan), jenis kelamin, keadaan tubuh, ciri-ciri muka, ciri-ciri badani, dan lain-lain.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penokohan dalam cerita pendek adalah cara pengarang menggambarkan tokoh yang dapat menggerakkan cerita. Sedangkan tokoh-tokoh dalam cerita itu mempunyai watak atau karakter yang menghidupkan ketokohannya.
2. 4. 4. Latar atau Setting
Latar atau setting adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra (Panuti Sudjiman, 1988:44).
Unsur latar dibedakan dalam beberapa indikator. Abrams (dalam Zainudin Fananie, 2002:99) berpendapat, latar dibedakan menurut tiga indikator yang meliputi; pertama, general locale (tempat secara umum); kedua historical time (waktu historis); ketiga social circumstances (lingkungan sosial).
Senada dengan Abrams, Burhan Nurgiyantoro (2002:227) juga membedakan latar menjadi tiga kategori :
a. Latar tempat, yaitu menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
b. Latar waktu, yaitu berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
c. Latar sosial, yaitu menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi.
Fungsi setting/latar menurut Rene Wellek dan Austin Warren adalah sebagai berikut
a. Latar adalah lingkungan, dan lingkungan terutama interior rumah dapat dianggap berfungsi sebagai metonimia, atau metafora, ekspresi dari tokohnya. Rumah seseorang adalah perhiasan bagi dirinya sendiri. Kalau kita menggambarkan rumahnya berarti kita menggambarkan sang tokoh. Latar memberikan informasi situasi (ruang dan tempat) sebagaimana adanya dan berfungsi sebagai proyeksi keadaan batin para tokoh, latar menjadi metafor dari keadaan emosional dan spiritual tokoh.
b. Latar yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan mood: alur dan penokohan didominasi oleh nada dan kesan tertentu disebut latar noveltik, misalnya pada karya noveltik. Deskripsi naturalistik lebih bersifat dokumentasi, dengan tujuan menciptakan ilusi.
c. Dalam drama, latar digambarkan secara verbal (seperti dalam drama Shakespeare)atau ditunjukkan oleh petunjuk pementasan yang menyangkut dekorasi dan peralatan panggung disebut latar realistis.
d. Latar juga dapat berfungsi sebagai penentu pokok: lingkungan dianggap sebagai penyebab fisik dan sosial, suatu kekuatan yang tidak dapat dikontrol oleh individu (Wellek, Rene dan Warren, Austin, 1989:290-1).
Latar tidak hanya menunjukkan di mana dan kapan cerita itu terjadi. Lebih dari itu, latar juga harus sesuai dengan situasi sosial dan diagesis atau logika ceritanya. Hal ini diungkapkan oleh Zainuddin Fananie dalam bukunya Telaah Sastra. Zainuddin Fananie, (2002:99) berpendapat bahwa dalam telaah setting/latar sebuah karya sastra, bukan berarti bahwa persoalan yang dilihat. hanya sekedar tempat terjadinya peristiwa, saat terjadinya peristiwa, dan situasi sosialnya, melainkan juga dari konteks diagesis-nya kaitannya dengan perilaku masyarakat dan watak para tokohnya sesuai dengan situasi pada saat karya tersebut diciptakan. Karena itu, dari telaah yang dilakukan harus diketahui sejauh mana kewajaran, logika peristiwa, perkembangan karakter pelaku sesuai dengan pandangan masyarakat yang berlaku saat itu.
2 .4. 5 Sudut Pandang
Abrams mendefinisikan sudut pandang atau point of view sebagai suatu cara sebuah cerita dikisahkan. Ia merupakan dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, laatr, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca (Abrams dalam Nurgiyantoro, 2002:70).
Pusat pengisahan atau sudut pandang dapat diartikan sebagai cara penampilan tokoh dalam cerita yang dipaparkan. Pada dasarnya, pusat pengisahan atau sudut pandang adalah visi pengarang, artinya sudut pandang yang yang diambil pengarang untuk melihat suatu kejadian cerita.
Sehubungan dengan hal tersebut, harus dibedakan dengan pengarang sebagai pribadi sebab sebuah cerita adalah pandangan pengarang terhadap kehidupan. Suara pribadi pengarang jelas masuk ke dalam karyanya. Terdapat beberapa jenis sudut pandang, yaitu :
a) Pengarang sebagai tokoh cerita
Sebagai tokoh cerita , pengarang bercerita tentang keseluruhan kejadian atau peristiwa terutama yang menyangkut diri tokoh. Tokoh utama sebagai pengantar cerita pada umumnya mempunyai kesempatan yang luas menguraikan tentang dirinya, pikiran, dan perasaannya.
` 2. Pengarang sebagai tokoh sampingan
Orang yang bercerita dalam hal ini adalah seorang tokoh sampingan yang menceritakan peristiwa yang bertalian terutama denga tokoh utama cerita.
3. Pengarang sebagai pengamat atau orang ketiga
Pengarang dalam hal ini memposisikan diri sebagai orang ketiga . Ia berada di luar cerita dan menempatkan diri sebagai pengamat sekaligus sebagai narator yang menjelaskan peristiwa yang berlangsung.
4. Pengarang sebagai pemain
Dalam sudut pandang ini pengarang sebagai pemain yang bertindak selaku pemain dalam cerita sekaligus sebagai narator yang menceritakan orang lain di samping dirinya.
Sudut pandang menyangkut msalah pemilihan peristiwa yang akan disajikan menyangkut masalah pemilihan ke mana pembaca akan diarahkan atau dibawa, menyangkut masalah apa yang harus dilihat pembaca, dan menyangkut kesadaran siapa yang disajikan.
Lazimnya, sudut pandang yang umum dipergunakan oleh para pengarang dibagi menjadi empat jenis, yaitu:
1. sudut pandang first person-central akuan sertaan;
2. sudut pandang first person peripheral atau akuantaksertaan;
3. sudut pandang third-person-limited atau diaan maha tahu;
4. sudut pandang third-person-limited atau diaan terbatas;
Di dalam sudut pandang akuan-sertaan, tokoh central cerita adalah pengarang yang secara langsung terlibat di dalam cerita. Sementara itu, dalam sudut pandang akuan-taksertaan, tokoh "aku" biasanya hanya menjadi pembantu atau pengantar tokoh lain yang lebih penting. Pecerita pada umumnya hanya muncul di awal atau akhir cerita.
Di dalam sudut pandang diaan-mahatahu, pengarang hanya menjadi seorang pengamat yang mahatahu, bahkan mampu berdialog langsung dengan pembaca. Dalam diaan-terbatas, pengarang menggunakan orang ketiga sebagai pencerita yang terbatas hak berceritanya. Di sini pengarang hanya menceritakan apa yang dialami oleh tokoh yang dijadikan tumpuan cerita. (Dr. Sumanto, Berkenalan dengan Prosa Fiksi 2000;160)


2. 4. 6 Gaya Bahasa
Gaya bahasa atau style adalah cara pengucapan bahasa dalam prosa, atau bagaimana seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan (Abrams dalam Nurgiyantoro, 2002:71).
Gaya bahasa merupakan bahasa kias atau bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan kesan (efek) dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum.
Yang menjadi elemen gaya bahasa adalah diksi dan sintaksis. Diksi yaitu pilihan kata. Kata-kata dapat dikatagorikan atas kata denotatif dan kata konotatif. Kata denotatif yaitu kata yang bermakna leksikal sedangkan kata konotatif adalah kata yang berarti asosiasi dan sugestif.
Sementara itu, sintaksis dalam konteks gaya bahasa merupakan cara pengarang menyusun kalimat. Dalam karya sastra, karakteristik kalimat dapat mencerminkan misi pengarang terhadap kehidupan, misalnya kalimat panjang dan kompleks dapat ditafsirkan bahwa pengarang berpikir panjang atau banyak tentang kehidupan.
Analisis struktural karya sastra, dalam hal ini fiksi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. Misalnya, dalam novel Ketika Cinta Bertasbih, analisis dilakukan dengan mengidentifikasikan dan mendeskripsikan cerita berupa tema, perwatakan, plot, latar, amanat, sudut pandang dan gaya bahasa. Kemudian dikaji bagaimana unsur-unsur tersebut terjalin dan secara bersama-sama membentuk satu keutuhan.
Dengan demikian, pada dasarnya analisis struktural bertujuan memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antarberbagai unsur karya sastra yang secara bersama menghasilkan sebuah kemnyeluruhan.
Menurut Hartoko dan Rahmanto, analisis struktural dapat berupa kajian yang menyangkut relasi unsur-unsur dalam mikroteks, satu keseluruhan wacana, dan relasi intertekstual (Nurgiyantoro, 2002:73).
2.5 Pandangan Sosial Kelompok Pengarang
Habiburrahman El-Shirazy adalah sastrawan muda yang oleh wartawan Majalah Matabaca dijuluki “Si Tangan Emas” karena karya-karya yang lahir dari tangannya selalu fenomenal dan best seller.
Habiburrahman adalah pengarang muda yang mampu menggetarkan hati para pecinta sastra. Karya-karyanya selalu dinanti khalayak karena dinilai membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi. Dalam novel ini terdapat motivasi yang mencerahkan pembacanya untuk berani hidup mandiri, tidak mudah menyerah. Dan novel ini juga tidak sekedar novel noveltis, ini juga novel fiqih yang ditulis oleh Habiburrahman dalam alur cerita yang tak mudah ditebak
2. 6 Kondisi Ekstrinsik
Kajian strukturalisme genetik selain memperhatikan struktur intrinsik dan pandangan sosial kelompok pengarang, juga mengangkat latar belakang sejarah, zaman, dan sosial masyarakatnya. Menurut Wuradji, keberadaan pengarang dalam masyarakat tertentu turut mempengaruhi karyanya.
Berdasarkan pendapat di atas, maka Habiburrahman El-Shirazy dalam karyanya tentu tidak dapat lepas dari pengaruh situasi dan kondisi masyarakat sekitarnya. Artinya, karakteristik ideologi, politik, ekonomi, dan sosial budaya masyarakat Kairo-Mesir sangat berpengaruh terhadap kekhasan karya Habiburrahman El-Shirazy.
Kecenderungan tersebut dilatarbelakangi oleh adanya suatu asumsi bahwa tata kemasyarakatan bersifat normatif. Artinya memiliki unsur-unsur pengatur yang harus ditaati atau dipatuhi. Pandangan, sikap, dan norma-norma yang ada dipengaruhi oleh tata kehidupan masyarakat Kairo-Mesir yang berlaku. Hal ini tentu menjadi faktor yang turut menentukan apa yang mesti ditulis pengarang, untuk siapa karya sastra itu diciptakan, dan apa tujuan yang dihajatkan melaui tulisan tersebut.
2. 7 Sinopsis Novel Ketika Cinta Bertasbih

Khairul Azzam adalah pemuda cerdas yang terlahir di sebuah desa di Jawa Tengah dan merupakan anak tertua dari empat bersaudara. Dari kecil Azzam sudah memiliki prestasi di sekolahnya, ia selalu mendapatkan juara pertama di kelasnya. Di tingkat Aliyah prestasi Azzam pun semakin gemilang. Berkat ketekunan dan kesungguhannya belajar ia mendapat beasiswa kuliah di Al-Azhar-Kairo.
Baru setahun di Kairo prestasi Azzam sangat membanggakan ayahnya bahkan ia memdapat nilai yang Jayyid Jiddan (lulus dengan sempurna), namun ajal tidak memandang siapa pun, ia datang kepada siapa saja yang telah digariskan tuhan. Itu pula yang terjad dengan ayah Azzam, setelah menempuh perkuliahan selama setahun ia mendapat berita bahwa ayahnya telah menghadap Sang Pencipta untuk selamanya.
Itulah awal dari menurunnya prestasi Azzam di kampus. Sebagai anak tertua Azzam mau tidak mau harus bertanggung jawab atas kehidupan keluarganya, dikarenakan adiknya masih kecil-kecil. Sementara itu, dia sendiri harus menyelesaikan studinya di Negara orang. Akhirnya dia mulai membagi waktu untuk belajar dan mencari nafkah. Ia mulai membuat tempe dan bakso yang ia pasarkan di lingkungan KBRI di Kairo. Berkat keahlian dan keuletannya dalam memasak, Azzam menjadi populer dan dekat dengan kalangan staf KBRI di Cairo. Tapi hal itu berimbas pada kuliah Azzam, sudah 9 tahun berlalu, ia belum juga menyelesaikan kuliahnya.
Seringnya Azzam mendapatkan job di KBRI Kairo mempertemukan ia dengan Puteri Duta Besar, Eliana Pramesthi Alam. Eliana adalah lulusan EHESS Perancis yang melanjutkan S-2 nya di American University in Cairo. Selain cerdas, Eliana juga terkenal di kalangan mahasiswa karena kecantikannya. Ia bahkan pernah diminta main di salah satu film produksi Hollywood, juga untuk Film layar lebar dan Sinetron di Jakarta. Segudang prestasi dan juga kecantikan Eliana membuat Azzam menaruh hati pada Eliana. Tetapi Azzam urung menjalin hubungan lebih dekat dengan Eliana, karena selain sifat dan kehidupannya yang sedikit bertolak belakang dengan Azzam, juga karena nasihat dari Pak Ali, supir KBRI yang sangat dekat dengan keluarga Eliana.
Apa yang dikatakan Pak Ali cukup terngiang-ngiang di benaknya, bahwa ada seorang gadis yang lebih cocok untuk Azzam. Azzam disarankan untuk buru-buru mengkhitbah (melamar) seorang mahasiswa cantik yang tak kalah cerdasnya dengan Eliana. Dia bernama Anna Althafunnisa, S-1 dari Kuliyyatul Banaat di Alexandria dan sedang mengambil S-2 di Kuliyyatul Banaat Al Azhar – Cairo, yang juga menguasai bahasa Inggris, Arab dan Mandarin. menurut Pak Ali, kelebihan Anna dari Eliana adalah bahwa Anna memakai jilbab dan sholehah, bapaknya seorang Kiai Pesantren bernama Kiai Luthfi Hakim.
Ada keinginan Khaerul Azzam untuk menghkhitbah Anna walaupun ia belum pernah bertemu atau melihat Anna. Karena tidak punya biaya untuk pulang ke Indonesia, Pak Ali menyarankan supaya melamar lewat pamannya yang ada di Cairo, yaitu Ustadz Mujab, dimana Azzam sudah sangat mengenal ustadz itu. Dengan niat penuh dia pun datang ke ustadz Mujab untuk mengkhitbah Anna Althafunnisa. Tapi ternyata lamaran itu ditolak atas dasar status. Karena S-1 Azzam yang tidak juga selesai, dan lebih dikenal karena jualan tempe dan bakso. Selain itu, Anna telah dikhitbah lebih dulu oleh seorang pria yang alih-alih adalah Furqan, sahabat Azzam yang juga mahasiswa dari keluarga kaya yang juga cerdas di mana dalam waktu dekat akan menyelesaikan S-2 nya. Azzam bisa menerima alasan itu, meskipun hatinya cukup perih.
Tetapi kemudian Furqan mendapat musibah yang sangat menghancurkan harapan-harapan hidupnya. Hal tersebut membuatnya menghadapi dilemma antara ia harus tetap menikahi Anna yang telah dikhitbahnya, tetapi itu juga sekaligus akan dapat menghancurkan hidup Anna.
Sementara itu Ayyatul Husna, adik Azzam yang sering mengirim berita dari kampung, membawa kabar yang cukup meringankan hati Azzam. Agar Azzam tidak perlu lagi mengirim uang ke kampung dan lebih berkonsentrasi menyelesaikan kuliahnya. Karena selain Husna telah lulus kuliah di UNS, ia juga sudah bekerja sebagai Psikolog. Keahlian Husna dalam menulis sudah membuahkan hasil. Penghasilan Husna cukup dapat membiayai kebutuhan adiknya yang mengambil program D-3, serta adik bontotnya yang bernama Sarah yang masih mondok di Pesantren.
Azzam yang sudah sangat rindu dengan keluarganya memutuskan untuk serius dalam belajar, hingga akhirnya berhasil lulus. Azzam pun menepati janjinya ke keluarganya untuk kemMesir ke kampung dan segera mencari jodoh di sana, memenuhi amanat ibunya. Walaupun sebenarnya masih terbersit sedikit harapan untuk tetap mendapatkan hati Anna.
Apakah mungkin Azzam akan berjodoh dengan Anna? Ataukah Eliana yang sebenarnya juga masih penasaran dengan Azzam? Ataukah Azzam berhasil menemukan tambatan hatinya di Indonesia?..
BAB III
3. Metode Penelitian
3. 1 Metode yang digunakan
Dalam penelitian cukup banyak metode yang dikenal, akan tetapi penggunaan suatu metode harus sesuai dengaan objek penelitian dan tujuan penelitian. Adapun jenis metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan kualitatif. Semi (1993) mengatakan bahwa penelitian kualitatif dilakukan dengan mengutamakan kedalaman penghayatan terhadap interaksi di antara konsep yang dikaji secara khusus.
Dari pendapat di atas bahwa metode penelitian yaitu bagaimana langkah atau tehnik-tehnik kerja seseorang dalam melakukan suatu penelitian sehingga hasil yang dicapai sesuai dengan target yang diinginkan. Begitu juga penelitian deskriptif dan kualitatif bagaimana peneliti sendiri harus benar-benar menguasai dan memahami suatu konsep yang akan dikajinya secara serius.
3. 2 Penentuan objek Penelitian
Menentukan objek penelitian sangatlah penting. Semi menempatkan objek penelitian sebagai jiwa sebuah penelitian, karena bila objek penelitian tidak ada, tentu saja penelitian tidak akan pernah ada (Semi, 1993).
Dalam penelitian ini, peneliti menyiapkan objek yang akan diteliti yaitu novel yang sesuai dengan judul penelitian itu sendiri.
Sehingga dalam penelitian ini, yang menjadi objek penelitian adalah teks sastra yang dijadikan bahan kajian, yaitu novel Ketika Cinta Bertasbih 1 terbitan Republika Basmala tahun 2008.
3. 3 Data dan Sumber Data
Data dalam penelitian ini adalah struktur genetik novel Ketika Cinta Bertasbih. Sedangkan yang menjadi sumber data adalah novel dengan identitas sebagai berikut:
Judul : Ketika Cinta Bertasbih 1
Pengarang : Habiburrahman El-Shirazy
Penerbit : Republika Basmala
Tahun Terbit : 2008
Cetakan : ketiga belas
Jumlah halaman : 483 halaman
Cover depan : (gambar depan bagian atas tertulis 1MEGABESTSELLER ASIA TENGGARA dan nama pengarangnya, di bawahnya terdapat bangunan dan suasana Mesir di malam hari, seperti yang tampak pada gambar di bawah ini.




3. 4 Metode Pengumpulan Data
Metode penelitian membantu peneliti dalam menentukan urutan kerja dan bagaimana penelitian dilakukan. Sedangkan teknik adalah alat-alat pengukur apa yang diperlukan dalam melakukan suatu penelitian (Nazir, 1985).
Metode ini bertujuan untuk memudahkan peneliti dalam menentukan cara kerja dalam menganalisis dan bagaimana penelitian dilakukan sehingga dalam penelitian ini menggunakan studi pustaka. Data penelitian dikumpulkan menggunakan metode dokumentasi dan metode telaah.
3. 4. 1 Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah suatu cara atau sistem pemberian/pengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyampaian informasi berdasarkan keterangan-keterangan atau kutipan/referensi lain yang dapat disajikan terhadap berbagai hal di dalam penelitian dan pengkajian data selanjutnya.
Melalui metode ini data-data yang termuat dalam novel dikumpulkan sebagai perbendaharaan data untuk dapat digunakan sebagai bukti atau keterangan dalam melakukan pengkajian data selanjutnya yang sudah terkumpul atau teridentifikasi itu dapat dianalisis.
3. 4. 2 Metode Telaah
Metode telaah adalah suatu cara pengumpulan data yang teratur berdasarkan pemikiran yang cermat/bersistem untuk memudahkan melaksanakan penyelidikan, kajian, dan pemeriksaan terhadap berbagai hal di dalam penelitian dan pengkajian data selanjutnya.
Maksud dari metode ini adalah untuk memperoleh keterangan tentang bahasa,struktur,nilai dan keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian atau analisis atau kesimpulan mengenai novel.
3. 4 Metode Analisis Data
Sesuai dengan sifat penelitian ini yaitu penelitian kualitatif, maka peneliti melakukan analisis terhadap data-data yang ada dengan mengutamakan kedalaman penghayatan terhadap interaksi antar konsep yang dikaji secara khusus (Semi, 1993).
Langkah-langkah dalam menganalisis novel Ketika Cinta Bertasbih 1 adalah sebagai berikut :
1. Tahap deskripsi yaitu seluruh data yang diperoleh dihubungkan dengan persoalan setelah itu dilakukan tahap pendeskripsian. Karena, dalam penelitian ini data yang terkumpul berupa satuan semantis seperti kata-kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf, juga gambar, dan hasilnya berupa kutipan-kutipan dari kumpulan data tersebut yangberisi tindakan, pikiran, pandangan hidup, konsep, ide, gagasan yang disampaikan pengarang melalui karyanya.
2. Tahap klasifikasi: data-data yang telah dideskripsikan kemudian dikelompokkan menurut kelompoknya masing-masing sesuai dengan permasalahan yang ada .
3. Tahap analisis: data-data yang telah diklasifikasikan menurut kelompoknya masing-masing dianalisis menurut struktur kemudian dianalisis lagi dengan pendekatan strukturalisme genetik.
4. Tahap interpretasi data: upaya penafsiran dan pemahaman terhadap hasil analisis data.
5. Tahap evaluasi: data-data yang sudah dianalisis dan diinterpretasikan sebelum ditarik kesimpulan begitu saja. Data-data harus diteliti dan dievaluasi kemMesir agar dapat diperoleh penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.
6. Penarikan Simpulan : Penelitian ini akan disimpulkan dengan teknik induktif yaitu penarikan kesimpulan berdasarkan dari pengetahuan yang bersifat khusus, untuk menentukan kesimpulan yang bersifat umum.
BAB IV
PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA
4.1 Analisis Data
Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis strukturalisme genetik terhadap novel Ketika Cinta Bertasbih 1 karya Habiburrahman El Shirazy. Selanjutnya analisis strukturalisme genetik dalam penelitian ini dapat diformulasikan sebagai berikut. Pertama, peneliti melakukan analisis struktur intrinsik novel Ketika Cinta Bertasbih 1 baik secara parsial maupun secara keseluruhan (totalitas). Kedua, peneliti melakukan analisis terhadap latar belakang soaial kelompok pengarang. Ketiga, melakukan analisis terhadap kondisi eksternal pengarang novel Ketika Cinta Bertasbih 1.
Berdasarkan analisis tersebut, peneliti dapat mencari beberapa premis khusus yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk menentukan premis umum sebagai kesimpulan. Adapun uraian hasil analisis strukturalisme genetik novel Ketika Cinta Bertasbih 1 adalah sebagai berikut.
4.1.1 Struktur Intrinsik Novel Ketika Cinta Bertasbih 1
a. Tema
Tema adalah persoalan yang menduduki tempat utama dalam karya sastra. Tema dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor adalah tema yang sangat menonjol dan tema minor adalah tema yang tidak menonjol.
Berdasarkan pengertian di atas, maka tema yang muncul dalam novel Ketika Cinta Bertasbih 1 adalah sebagai berikut.
1) Tema Mayor
Novel Ketika Cinta Bertasbih 1 memiliki tema mayor yaitu ‘tentang cinta dan pengorbanan seorang pemuda untuk mencari uang demi tanggung jawab terhadap keluarganya’. Tema ini muncul karena sejak awal hingga akhir cerita tokoh utama Khairul Azzam digambarkan sangat rajin bekerja, memasarkan tempe-tempe ke kalangan ibu-ibu Indonesia yang tinggal di Mesir. Dia juga menerima pesanan bakso untuk acara-acara yang diselenggarakan oleh KBRI. Karena seluruh waktunya lebih banyak digunakan untuk membuat tempe dan berjualan bakso, maka kuliahnya agak terlantar. Sehingga sudah 9 tahun dia mengambil S1 di Al-Azhar tapi belum lulus juga.
Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa pengorbanan dan perjuangan hidup yang dialami Azzam yaitu menjadi penjual tempe dan bakso di Mesir mewarnai hampir seluruh isi novel. Pekerjaan itu dimulai ketika Azzam baru setahun menjadi mahasiswa Al-Azhar dikarenakan ayahnya meninggal dunia dan rasa tanggung jawabnya terhadap ibu dan adik-adiknya, sehingga ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk berusaha mencari uang dari pada menyelesaikan kuliahnya. Tapi ia sangat ikhlas dan tulus melakukan semua pekerjaan itu, ia tidak pernah mengeluh sedikit pun bahkan ia sadar dengan cara inilah Allah mencintainya.
…………………………………………….…………………………………………………….
“Saya memang harus bekerja keras Pak. Bagi saya ini bukan beban. Saya tidak merasakan sebagai beban . meskipun orang lain mungkin melihatnya sebagai beban. Saya memang harus bekerja untuk menghidupi adik-adik saya di Indonesia. Ayah saya wafat saat saya baru satu tahun kuliah di Mesir. Saya punya tiga adik. Semuanya perempuan. Saya tidak ingin pulang dan putus kuliah di tengah jalan. Maka satu-satunya jalan adalah saya harus bekerja keras di sini. Jadi itulah kenapa saya sampe jualan tempe, jualan bakso, dan membuka jasa katering”. (Habiburrahman, 2008:70).
……………………………………………...
Aku sama sekali tak menyangka bahwa kau menghidupi adik-adikmu di Indonesia. Aku sangat salut dan hormat kepadamu Mas. Sungguh. Ketika banyak mahasiswa yang sangat manja dan menggantungkan kiriman orangtua, kau justru seMesirknya. (Habiburrahman, 2008:71).

Setelah setahun menjadi mahasiswa di Al-Azhar Azzam merupakan salah satu mahasiswa cerdas itu terbukti dengan nilai yang ia dapat yaitu Jayyid Jiddan (lulus dengan sempurna), namun setelah itu ia menerima bahwa ayahnya meninggal karena kecelakaan. Karena ia merupakan anak tertua dari empat bersaudara maka ia menjadi tulang punggung keluarganya. Semua cita-citanya ia abaikan dan lebih memfokuskan diri menjadi penjual tempe dan bakso. Bahkan orang-orang lebih mengenalnya sebagi penjual tempe dan bakso daripada sebagai mahasiswa.
…………………………………………….…………………………………………………….
Kak Azzam tercinta,
Aku sendiri masih ingat surat kakak ketika kakak berhasil naik tingkat tahun pertama di Al Azhar. (Surat itu masih kusimpan baik-baik Kak). Dalam surat itu kakak menjelaskan kepada ayah, bahwa kakak adalah satu-satunya mahasiswa dari Indonesia tingkat pertama yang meraih predikat jayyid jiddan, atau Sangat Baik. Saya masih ingat Kak, begitu membaca surat kakak, ayah langsung sujud syukur dan menangis haru dan bahagia. Ayah sangat bangga. Ayah langsung meminta ibu memasak enak dalam porsi besar. Malam harinya ayah mengundang tetangga kanan kiri untuk syukuran. Saat ini aku juga sangat bangga pada Kakak.
Kak Azzam tercinta,
Satu bulan setelah menerima surat dari kakak, ayah di panggil Allah. Ayah meninggal karena kecelakaan. Tahukah engkau kakakku, ternyata di saku baju ayah yang berlumuran darah itu ada suratmu. Sedemikian bangganya ayah pada dirimu, bahkan suratmu itu selalu dibawanya ketika ayah pergi kerja. Saat ayah tiada, kami merasakan dunia terasa gelap. Namun, kau dari negeri para nabi menguatkan kami. Kepada kami, adik-adikmu ini kau berpesan untuk terus tenang dan konsentrasi belajar. Sejak itu kau datang tiap bulan dengan kirimanmu yang kau transfer lewat bank ke rekening ibu. Ibu yang memang sering sakit dan tidak bisa lagi bekerja keras sering menangis, aku yakin ibu menangis haru bercampur bangga, setiap kali menerima transferan uang dari kakak.
Tak lama setelah itu aku tahu dengan detil apa yang kakal lakukan di mesir untuk kami. Kakak bekerja keras membuat tempe, berjualan tempe dan membuat bakso demi kami. Kakak rela mengorbankan studi kakak demi kami. Kami tahu itu pasti sangat berat bagi kakak. Sebab kami tahu mental kakak sejatinya adalah mental bekompetisi dan berprestasi. Sejak SD sampai Madrasah Aliyah kakak selalu rangking satu. Dan karena prestasi kakak itu, di setiap pelepasan kelulusan, dari SD sampai Madrasah Aliyah, ayah selalu diminta pihaak sekolahan untuk maju ke panggung pelepasan, sebagai wali murid dari siswa paling berprestasi. Tak henti-hentinya ayah membanggakan prestasi kakak itu kepada kami, anak-anaknya. Kami pun terlecut karenanya.

Kak Azzam,
Sungguh, saat mengetahui hal itu aku menangis. Nun jauh di sana, di negeri para nabi kakak mati-matian jualan tempe dan bakso demi kami. Sungguh kak, semangatku untu survive, untuk maju dan berprestasi semakin terlecut, terlecut dan terlecut. Adik-adik juga terlecut. Hari berganti hari. Matahari terus terbit dan tenggelam. Sudah delapan tahun kakak membanting tulang dan berkorban. Kini kakak bisa segera pulang unutk melihat adik-adik kakak yang alhamdulillah sudah bisa menatap masa depan dengan kepala tegak berlimpah rahmat Tuhan seru sekalian alam. (Habiburrahman, 2008:335-336)

Itulah aktifitas Azzam sehari-hari, selalu membuat bakso dan tempe. Di saat temannya harus istirahat ia berjaga membuat tempe sampe larut malam. Ia merupakan sosok yang tidak mudah menyerah dengan kedaan dan selalu didisiplin dalam bekerja. karena ia tak mau terlena dengan keadaan.
…………………………………………….…………………………………………………….
Malam itu, di kamarnya yang berada di sebuah apartemen, tepat di mana ada dua ekor kucing yang sedang mendendangkan lagu-lagu cinta, ia masih juga belum istirahat dari pekerjaannya. Sementara teman-temannya satu rumah sudah lama larut bermesraan dengan mimpi indahnya masing-masing.
Azzam masih sibuk berkutat dengan kacang kedelainya yang telah ia beri ragi. Dengan penuh kesabaran ia harus membungkusnya agar menjadi tempe. (Habiburrahman, 2008:130-131)
……………………………………………...
Wajahnya tampak lelah. Kedua matanya telah merah. Namun sepertinya ia tak mau menyerah. Dalam kondisi sangat letih, ia harus tetap bekerja. Ia tak mau kalah oleh keadaan. Ia tak mau semangatnya luntur begitu saja, oleh rasa kantuk yang menderanya. Bila sudah begitu ia selalu ingatperkataan Al Barudi yang selalu melecut jiwanya.
Orang yang memiliki semanga.
Ia akan mencintai semua yang dihadapinya.
Ia melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya. Ia menghela nafas dalam-dalam. Sudah masuk ujung malam, dua jam lagi pagi dating. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya dengan segera. Ia harus punya waktu untuk istirahat, meskipun cuma satu jam memejam mata.
Ia lalu berdiri dan menggerak-gerakkan tubuhnya untuk menghilangkan rasa linu dan pegal yang begitu terasa. Dua menit ia melakukan gerakan senam ringan. Lalu kemMesir jongkok. Dan kemMesir membungkus kedelai calon tempe dengan penuh ketelitian dan kesabaran.
Tepat pukul tiga kurang lima menit ia berdiri dan bernafas lega. Pekerjaannya telah usai (Habiburrahman, 2008:132).

Dan sekarang pun Azzam berada di Alexandria guna memenuhi tugasnya sebagai pembuat dan penjaga Nasi timlo Solo selama enam hari. Dan selama itu pula ia libur dari dunia perkuliahan.
…………………………………………….…………………………………………………….
Awalnya adalah Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang mengadakan acara “Pekan Promosi Wisata da Budaya Indonesia di Alexandria”. Beberapa acara pagelaran budaya digelar di Auditorium Alexandria University selama satu pekan. Selama itu juga ada promosi masakan khas Indonesia. Ada empat makanan yang dipromosikan yaitu, Nasi Timlo Solo, Sate Madura, Soto Makasar, dan Empek-empek Palembang. Dan Elianalah yang menjadi penanggung jawab promosi makanan khas Indonesia itu. Sementara Azzam, dikenal sebagai mahasiswa paling mahir memasak. Dan ia dikontrak KBRI untuk membuka stand Nasi Timlo Solo. Mulanya ia menolak. Sebab, dengan begitu ia harus meninggalkan bisnisnya membuat tempe selama seminggu. Ia khawatir langganannya kecewa. Namun Putri Dubes itu terus mendesak dan memohon kesediannya. Akhirnya ia luluh dan bersedia (Habiburrahman, 2008:43).

Dan dari pekerjaan inilah Azzam yang seorang mahasiswa yang lebih dikenal sebagai penjual tempe bertemu dengan Eliana Pramesti Alam seorang putri Duta Besar Republik Indonesia di Mesir yang terkenal dengan kecerdasan dan kecantikannya ke seantero Mesir dan ia merupakan pelanggan Azzam yang selalu memberikannya keuntungan besar.
Tanpa disadari Azzam menaruh simpati dan rasa kagum kepada putri Dubes RI tersebut, dan ia merasa bangga bisa lebih berteman akrab dengan Eliana dibanding mahasiswa yang lainnya. Walaupun ia tahu bahwa ia tak mungkin dapat menyunting gadis yang dipuja dan dipuji bahkan dijadikan impian dan menjadi buah bibir oleh mahasiswa Indonesia karena terkagum akan kepintaran dan kecerdasan serta kecantikan yang mengalahkan kecantikan gadis Mesir.
…………………………………………….…………………………………………………….
Sejak itulah hatinya berbunga-bunga. Sebab sebelum berangkat ke Alexandria ia sering ditelpon Eliana. Dan saat di Alexandria hampir tiap hari Eliana datang ke standnya untuk mengontrol, melihat-lihat, atau hanya sekedar untuk mengajaknya bicara apa saja (Habiburrahman, 2008:44).
……………………………………………………………………………………………….
Azzam masih berdiri di tempatnya. Entah kenapa begitu mencium parfum yang dipakai Putri Pak Dubes itu ia merasakan nafasnya sedikit sesak, jantungnya berdegup kencang, dan ada sesuatu yang tiba-tiba dating begitu saja mengaliri tubuhnya (Habiburrahman, 2008:52).


Selain kecantikannya Eliana juga terkenal cerdas dan pandai berbahasa Inggris dan Prancis dan prestasinya itu bisa dilihat dari tulisa opininya dalam bahasa Inggris yang dimuat di kora Ahram Gazzete, dan menjadi bintang tamu di Nile TV. Di layar TV ia berdebat dengan Sekjen Liga Arab.
………………………………………………………………………………………………….
Sesungguhnya bukan semata-mata cuaca dan suasana menjelang musim semi yang membuat Alexandria senja itu begitu memesona. ……………………………………………………Dan penyebab itu semua, tak lain tak bukan adalah seorang gadis pualam, yang di matanya memiliki kecantikan bunga mawar putih yang sedang merekah. Gadis yang di matanya seumpama permata safir yang paling indah.
Gadis itu adalah kilau matahari di musim semi. Sosok yang sedang menjadi buah bibir di kalangan mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Mesir. Gadis yang pesonanya dikagumi banyak orang. Dikagumi tidak hanya karena kecantikan fisiknya, tapi juga karena kecerdasan dan prestasi-prestasi yang telah diraihnya. Lebih dari itu, gadis itu adalah putri orang nomor satu bagi masyarakat Indonesia di Mesir (Habiburrahman, 2008:41).
Dialah Eliana Pramesthi Alam. Putri satu-satunya Bapak Duta Besar Republik Indonesia di Mesir (Habiburrahman, 2008:42).

Itulah sesosok Eliana yang membuat hati Azzam berbunga-bunga, namun cintanya kandas begitu saja dan tak tersampaikan karena ia tahu Eliana bukanlah gadis yang sebanding dengannya karena terlalu banyak perbedaan di antara dirinya dan Eliana. Di samping itu sahabatnya Furqan juga menaruh hati kepada putri Dubes Republik Indoenesia di Mesir tersebut. Dan Eliana pun memiliki perasaan yang sama terhadap Furqan.
…………………………………………….…………………………………………………….
“Begini. Aku saat ini sedang dikejar-kejar sama Eliana. Putri Pak Dubes itu?
……………………………………………...
“Tadi malam dia menanyakan lagi jawabanku. Aku belum jawab. Eliana sudah berusaha fair dan jujur. Ia telah menceritakan semua hubungannya denga pacar-pacarnya yang gagal. Ia sudah pernah ganti pacar lima kali. Sekali waktu di SMA. Empat kali waktu di Pramcis. Dua pacarnya yang terakhir adalah orang bule. Eliana tidak cocok dengan mereka. Ia ingin hidup yang lurus-lurus saja. Dia bilang ingin memiliki suami yang bisa membimbingnya. Jujur saja Rul. Aku tertarik padanya. Aku tertarik tidak semata-mata karena kecantikan wajahnya. Tapi aku tertarik karena potensi yang ada dalam dirinya yang jika diarahkan di jalur yang benar bisa sangat bermanfaat bagi umat”.(Habiburrahman, 2008:113)

Eliana dan Furqan sama-sama orang terpandang dan sebanding karena Furqan juga sedang menempuh S2 di Cairo University. Ia merupakan pemuda dari anak konglomerat dan terkenal dengan kecerdasannya, bahkan ia pernah menjadi Ketua Umum PPMI.
Namum Furqan belum memberi keputusan kepada Eliana karena ia telah terlanjur meminang Anna Althafunnisa yaitu seorang putri Kiai Lutfi Hakim di Jawa Tengah, tapi Furqan belum mendapat jawaban dari Anna.
Anna adalah sosok gadis yang solehah dan sifatnya yang lemah lembut membuat orang jatuh hati kepadanya. Anna sedang menempuh S2 di Kuliyyatul Banat, Al Azhar. Ia lebih banyak berinteraksi dengan mahasiswa Malaysia daripada mahasiswa Indonesia.
Dan kepada Anna Azzam akan melabuhkan cintanya, walaupun ia tak pernah melihat Anna. Ia hanya tahu tentang Anna dan keluarganya dari pak Ali yang merupakan sopir dari Pak Dubes RI di Mesir. Dan Pak Ali menyarankan agar Azzam untuk segera meminang Anna melalui ustadz Mujab yaitu keluarga Anna yang saat ini masih tinggal di Mesir.
Setelah mendengar keterangan dari pak Ali. Sepulang dari Alexandria Azzam pun langsung menuju ke rumah ustadz Mujab dan berharap ia akan dibantu untuk melamar Anna Althafunnisa karena ia begitu akrab denga ustadz Mujab dan istrinya.
…………………………………………….…………………………………………………….
Dengan mengumpulkan semua keberaniannya ia menjawab dengan suara bergetar. Dan degan hati bergetar pula,
“Namanya Anna Althafunnisa Putri Pak Kiai Lutfi Hakim. Asal Klaten. Kalau tidak salah sekarang sedang program pascasarjana di Kuliyyatul Banat, Al Azhar”.
Ustdz Mujab Kaget mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Azzam.
……………………………………………...
Ustadz Mujab menghela nafa panjang. Ia hendak mengeluarkan sesuatu yang menyesak di dadanya.
……………………………………………...
“Allahlah yang mengatur perjalanan hidup ini. Sungguh aku ingin membantumu Rul. Tapi agaknya takdir tidak menghendaki aku untuk membantumu kali. Anna Althafunnisa itu masih terhitung sepupu denganku. Aku tahu persis keadaan dia saat ini. Sayang kau datang tidak tepat waktunya. Anna Althafunnisa sudah dilamar orang. Ia sudah dilamar oleh temanmu sendiri”.
……………………………………………...
Mendengar hal itu tulang-tulang Azzam bagai dilolosi satu persatu. Lidah dan bibirnya terasa kelu. Furqan lagi. Ia berusaha keras mengendalikan hati dan perasaannya untuk bersabar. (Habiburrahman, 2008:124-125)


Azzam harus berlapang dada dan bersabar untuk yang kedua kalinya karena kedua wanita yang ia impikan telah dilamar oleh sahabatnya sendiri yaitu Furqan. Ia semakin sadar bahwa ia harus berusaha dan bertekad untuk sukses secara bisnis dan juga sukses secara akademis. Ia akan menata diri untuk menyelesaikan S1 dan segera pulang ke Indonesia.
Sudah hampir delapan tahun Azzam melakoni kehidupannya sebagai penjual tempe dan bakso. Dan kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil yang luar biasa karena, adik-adiknya telah berhasil dan bekerja sehingga ia tidak lagi harus membanting tulang dan tugasnya hanya satu konsentrasi pada kuliah agar ia bisa pulang secepatnya untuk berkumpul dengan keluarganya yang sudah sembilan tahun berpisah dengannya. Itulah pesan adik-adiknya melalui surat.
…………………………………………….…………………………………………………….
Menjumpai
Kakakku Tercinta
Abdullah Khairul Azzam
Di Bumi Para Nabi

Assalamu’alaikum wa Rahmatulla wa Barakatuh.
Dari pojok Kota Kartasura tercinta kami tiada henti mengirimkan doa, semoga Kak Azzam senantiasa sehat, terjaga dari segala keburukan, dan berada dalam selimut rahmat-Nya siang malam. Amin.
Kak, alhamdulillah, kami semua di rumah baik, sehal wal afiyat, berlimpah rahmat Allah. Ibu alhamdulillah baik dan sehat. Beliau sudah sangat rindu pada Kakak. Husna sendiri juga sehat. Dua minggu yang lalu Husna menerima ijazah profesi, Husna sudah bisa prektik sebagai psikolog. Segala puji bagi Allah Swt. Ini tak lepas dari jasa Kakak. Lia sudah menyelesaikan D.2. PGSD-nya. Ia kini mengajar di SDIT Al Kautsar Solo. Dan Sarah masih belajar di Pesantren Al-Quran di Kudus. Terakhir Husna ke Kudus ia sudah hafal Juz 27, 28, 29, dan 30.
Kak Azzam tercinta,
Selama delapan tahun ini sejak ayah berpulang ke rahmatullah, engkau telah menunaikan kewajibannmu dengan baik. Lihatlah kami, kini adik-adikmu sudah bisa engkau banggakan. Kami sangat berterima kasih dan bangga kepadamu Kak. Selama ini kami tahu engkau tidak lagi memikirkan dirimu Kak. Studimu di Al Azhar yang seharusnya bisa selesai dalam empat tahun, bahkan sampai sekarang, belum juga selesai. Padahal kau sudah sembilan tahun di Mesir. Kami tahu bahwa engkau mengorbankan dirimu dan segala idealismemu demi membiayai hidup dan sekolah kami.
……………………………………………...
Kak Azzam tercinta,
Kami tahu sebentar lagi kakak akan menghadapi ujian. Sudah saatnya kakak menata masa depan kakak. Kami berharap saat ini kakak kemMesir konsentrasi ke studi kakak. Kakak harus segera selesai dan segera pulang. Kami semua sudah rindu. Sementara jangan pikirkan kami dulu. Insya Allah kami berkecukupan. Aku sendiri sejak dua bulan ini sudah menjadi pengisi rubrik psikologi remaja di Radio JPMI(Jaya Pemuda Muslim Indonesia) Solo, juga diminta sebgai asisten dosen di UNS. Dik Lia sudah menjadi pengajar tetap di SDIT. Gaji kami berdua insya Allah cukup untuk hidup layak. Jika Kakak ada rezeki dialokasikan saja untuk membeli tiket pulang dan mungkin membeli buku-buku refrensi yang pasti akan sangat Kakak perlukan jika nanti mengamalkan ilmu di Tanah Air.
Kak Azzam tercinta,
Harapan kami Kakak bahagia membaca surat ini. Lia titip salam. Salam rindu dan kangen tiada tara katanya. Sarah titip kecupan cinta katanya. Ibu titip setetes air mata cinta dan bangga untukkmu kakakku tercinta. Ini dulu ya. Selamat menempuh ujian. Semoga lulus dan segera pulang ke Tanah Air. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan taufik-Nya kepada Kakak. Amin
Wassalam,

Dengan sepenuh cinta,

Adikmu,

Ayatul Husna.

Azzam membaca surat dari adiknya dengan airmata berderai-derai.
……………………………………………...
Tinggal satu mata kuliah, Tafsir Tahlili. Dan ia akan mempelajarinya dengan penuh konsentrasi. Selesai ujian ia akan focus mencari dana untuk pulang. (Habiburrahman, 2008:333-337).

Dengan kesabaran, kerja keras, dan memohon kepada Sang Pencipta ia berhasil. Apa yang ia impikan selama ini sudah terwujud dan kini adik-adiknya sudah berhasil dan bahagia. Ia sangat bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah kepada diri dan keluarganya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tema mayor novel Ketika Cinta Bertasbih 1 adalah ‘tentang cinta dan pengorbanan seorang pemuda untuk mencari uang demi tanggung jawab terhadap keluarganya’.
2) Tema Minor
Selain tema mayor, dalam novel Ketika Cinta Bertasbih 1 juga dapat ditemukan tema minor. Berdasarkan hasil analisis, beberapa tema minor yang terkandung di dalamnya antara lain:
a) Kebesaran Allah
Karena dilihat dari latar belakang pengarang novel Ketika Cinta Bertasbih 1 ini adalah orang yang taat kepada Allah, sudah smestinya ia menggambarkan bagaimana Kebesaran Allah dan tanda-tanda dari kebesarannya. Dan tema ini dapat kita lihat dari penggalan novel di bawah ini.
…………………………………………….…………………………………………………….
Ia edarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan. Laut itu terlihat begitu luas dan kapal itu begitu kecil. Padahal di dalam kapal itu mungkin ada ratusan manusia. Ia jadi berpikir, alangkah kecilnya manusia. Dan alangkah Maha penyayangnya Tuhan yang menjinakkan lautan sedemikian luas supaya tenang dilalui kapal-kapal berisi manusia. Padahal, mungkin sekali di anatara manusia yang berada di dalam kapal itu terdapat manusia-manusia yang sangat durhaka pada Tuhan. Toh bagitu, Tuhan masih saja menunjukkan kasih saying-Nya. Ia jinakkan lautan, yang jika Ia berkehendak, Ia bisa menitahkan ombak untuk menenggelanmkan kapal itu dan bahkan meluluhlantakkan seluruh isi Kota Alexandria.(Habiburrahman, 2008:45)
……………………………………………...
Keteraturan Alam semesta, langit yang membentang tanpa tiang, pergantian siang dan malam, lautan luas membentang, gunung-gunung yang menjulang, awan yang membawa air hujan, air yang menumbuhkan tanam-tanaman, proses penciptaan manusia sembilan bulan di rahim, binatang-binatang yang menjaga ekosistem dan keteraturan-keteratuan lainnya, itu semua menunjukkan bahwa ada Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Sempurna. Dzat yang kekuasaan-Nya tidak ada batasnya. Dzat yang menciptakan itu semua. Dan Dzat itu adalah Tuhan Penguasa Alam semesta.
……………………………………………...
Matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat, dengan sangat teraturnya. Matahari tak pernah terlambat terbit. Matahari juga tak pernah bermain-main, berlari-lari ke sana kemari di langit seperti anak kecil bermain bola atau petak umpet. Ia beredar di jalan yang ditetapkan Tuhan untuknya. Dan selalu tenggelam di ufuk barat tepat pada waktunya. Keteraturan ini menunnjukkan, Tuhan Yang Menciptakan alam semesta ini. (Habiburrahman, 2008:47-48)

Demikianlah tanda-tanda di antara kebesaran Allah, yang digambarkan oleh pengarang dalam novel Ketika Cinta Bertasbih 1.
b) Ajaran Islam tentang cinta
Sebagaimana dengan judul novel ini adalah Ketika Cinta Bertasbih, namun dalam novel ini digambarkan tentang keutamaan cinta kepada Allah daripada kepada manusia dan cinta sesamA. Sebagaimana terlihat dalam kutipan novel berikut :
…………………………………………….…………………………………………………….
“Alhamdulillah. Untung saya keburu pulang”.
“Lho kok malah merasa untung”.
“Iya soalnya jika dapat ciuman khas Prancis dari Mbak, bagi saya bukanlah jadi hadiah, tapi jadi musibah”! (Habiburrahman, 2008:73)

Berdasarkan penggalan novel tersebut bahwa pengarang menjelaskan bahwa tidak ada istilah pacaran dalam Islam yang bisa menimbulkan khalawat atau berdua-duaan dengan lawan jenis. Di sini juga digambarkan, jika seseorang yang sudah saatnya untuk membina rumah tangga lebih baik untuk melamar langsung tanpa pacaran yang hanya akan membuka jalan untuk berkhalawat dan mendatangkan dosa, tema minor ini diperkuat berdasarkan penggalan-penggalan novel beriktu ini.
……………………………………………………………………………….
“Baiklah Ustadz. Saya ingin minta bantuan Ustadz untuk melamar seseorang untuk saya”. Kata Azzam dengan suara bergetar.
“Oh itu. Begitu saja kok malu. Kamu memang sudah saatnya kok Rul”.
……………………………………
“Aku akan membantu sebisaku. Siapa nama gadis yang kau pilih itu. Dan siapa nama orangtuanya? Orang mana? Kalau di Al Azhar, tingkap berapa”? Ustadz Mujab melanjutkan.
Dengan mengumpulkan semua keberaniannya ia menjawab dengan suara bergetar. Dan degan hati bergetar pula,
“Namanya Anna Althafunnisa Putri Pak Kiai Lutfi Hakim. Asal Klaten. Kalau tidak salah sekarang sedang program pascasarjana di Kuliyyatul Banat, Al Azhar”. (Habiburrahman, 2008:123-124)
……………………………………………………………………………….
“Ass. Wr. Wb. Dik Anna, bagaimana Istikharahnya? Sdh ada kepastian? Td Ust. Furqan ngebel ke Ust. Mujab, katanya besok mau dolan. Mungkin menanyakan hasilnya”.
Ia tertegun sesaat, sesuatu yang nyaris dia lupakan, kini ditanyakan. Memang sudah tiga bulan yang lalu ia diberitahu Mbak Zulfa tentang keseriusan Furqan yang ingin mengkhitbahnya. ……………………………………
Ia sama sekali tidak menemukan alasan untuk menolak. Namun juga belum mendapatkan kemantapan hati untuk menerimanya. Pikirannya masih terpaku pada tesisnya. Namun ia juga sadar bahwa waktu terus berjalan, dan usianya sudah hampir seperempat abad. Memang sudah saatnya ia membina rumah tangga, meyempurnakan separo agama. (Habiburrahman, 2008:156-157)
……………………………………………………………………………….
“Begini Kak, beberapa hari yang lalu aku diajak Kak Tiara ke Hadiqah Dauliyah. Dia menceritakan masalah yang saat ini dihadapinya kepadaku. Kak Tiara cerita, ia sedang menghadapi masalah serius. Aku diminta untuk tidak membuka hal ini kepada siapapun juga. Kak Tiara mendapat telpon dari ayahnya di Aceh yang memberitahu bahwa Kak Tiara dilamar oleh seorang Ustadz. Namanya Ustadz Zulkifli. Dia adalah salah seorang ustadz di pesantren Kak Tiara dulu. (Habiburrahman, 2008:321)
……………………………………………………………………………….
Ps: Husna sudah saatnya menikah. Kakak sebagai wali Husna bisa memikirkan hal ini. Husna sepenuhnya patuh pada kakak.
……………………………………
“Dalam hati ia berkata, “Insya Allah, Dik, kakak akan segera pulang. Begitu pulang kakak akan menikah secepatnya. Umur kakak toh sudah hampir kepala tiga. Setelah itu kakak akan menikahkan kalian dengan pemuda yang saleh, bi iznillah”,
“Kang sudah selesai membaca suratnya”? Tanya hafez.
“Sudah”, jawab Azzam sambil memandang Hafez.
“Kang”.
“Iya Fez, ada apa”?
“Aku ingin menagih janji Sampeyan”.
“Janji apa Fez”?
“Itu, janji Sampeyan untuk membicarakan pada Fadhil tentang keinginanku untuk menyunting Cut Mala. (Habiburrahman, 2008:415-416)


c) Gambaran tentang Al Azhar
Setting tempat dalam novel Ketika Cinta Bertasbih 1 adalah Cairo Mesir, dan dalam novel ini juga diceritakan tentang perjalanan hidup seorang pemuda yang menimba ilmu di Al Azhar. Berdasarkan setting tempat novel tersebut pengarang menggabarkan tentang kampus Al Azhar seperti pada kutipan cerita di bawah ini
…………………………………………….…………………………………………………….
Usai shalat Zuhur di Masjid Al Azhar, Azzam melangkahkan kakinya menuju kampus Fakultas Ushuluddin, Al Azhar University. Ia keluar masjid lewat pintu utara. Menyusuri trotoar Al Azhar Street yang melintas tepat di utara masjid. Jalan raya itulah yang memisahkan Masjid Al Azhar dengan kantor Grand Syaikh Al Azhar yang lama, kantor yang biasa disebut Masyikhatul Azhar. Masjid Al Azhar, Universitas Al Azhar, pasar tradisional Al Azhar, serta Mustasyfa Husein berada di sebelah selatan jalan.
Sedangkan Masyikhatul Azhar yang lama, Masjid Sayyidina Husein, Khan Khalili, dan toko buku paling populer di sekitar kampus Al Azhar yaitu Dar El Salam berada di sebelah utara jalan. Lalu lintas cukup padat. Untuk menghubungkan kawasan utara dan selatan terowongan bawah tanah yang tepat berada di sebelah barat Masjid Al Azhar. Juga ada jembatan penyebrangan yang berada di sebelah utara toko buku Dar El Salam. Kawasan ini, semuanya, dikenal dengan Maydan Husein.
Masjid Al Azhar, dan kampus Universitas Al Azhar yang lama di kenal berada di kawasan Maydan Husein. Sedangkan kampus Al Azhar yang baru termasuk rektorat Al Azhar berada di Madinat Nasr atau dikenal juga dengan sebutan Nasr City. Untuk kantor Grand Syaikh Al Azhar yang baru, berada tepat di sebelah selatan Daarul Ifta’. (Habiburrahman, 2008:167-168)

d) Keindahan Mesir dan Kota Alexandria
Tema ini muncul karena sejak awal cerita, pengarang menceritakan keindahan Mesir terutama di Kota Alexandria
…………………………………………….…………………………………………………….
Kota Alexandria sore itu tampak begitu memesona. Cahaya mataharinya yang kuning keemasan seolah menyepuh atap-atap rumah, gedung-gedung, menara-menara, dan kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di jalan. Semburat cahaya kuning yang terpantul dari riak gelombang di pantai menciptakan aura ketenangan dan kedamaian.
Di atas pasir pantai yang putih, anak-anak masih asyik bermain kejar-kejaran. Ada juga yang bermain rumah-rumahan dari pasir. Di tangan anak-anak itu pasir-pasir putih tampak seumpama butiran-butiran emas yang lembut berkilauan diterpa sinar matahari senja.
……………………………………………...
Dari jendela kamarnya yang terletak di lantai lima Hotel Al Haram, ia menyaksikan sihir itu. Di matanya, Alexandria sore itu telah membuatnya seolah tak lagi berada di dunia. Namun di sebuah alam yang hanya dipenuhi keindahan dan kedamaian saja. (Habiburrahman, 2008:43).


e) Persahabatan
Pesahabatan yang kokoh sehingga tercipta seperti keluarga sendiri hadir mewarnai tema novel ini, karena mereka sama-sama merasa sedarah, seperjuangan dan yang lebih mendalam mereka sebangsa dan setanah air yaitu berasal dari Bangsa Indoensia. Persahabatn yang terjalin dalam novel ini tampak pada penggalan novel di bawah ini.
………………………………………………………………………………………………..
“Kang Azzam, ayo ke depan. Kita makan kibdah dulu. Fadhil beli kibdah untuk ganjal perut”!
“Wah boleh juga. Oh ya, minumannya sudah ada? Kalau belum ada biar saya masak air sekalian”. Tukas Azzam sambil merampungkan cuciannya.
“Oh ya Kang belum”, jawab Ali.
“Wah beli kibdah banyak sekali Dhil”, kata Azzam sambil duduk di samping Fadhil. Nanang , dan Ali juga sudah duduk mengitari kibdah yang diletakkan begitu saja di atas karpet beralaskan Koran.
“Ya Kang, ini sekaligus syukuran. Tadi saya mencetak dua gol dalam pertandingan”, jawab mahasiswa dari Aceh itu dengan wajah berseri.
……………………………………………
“Yang penting mana syukurannya untuk dua gol. Yang mencetak satu gol saja beli kibdah, lha yang dua gol”? Tukas Nanang dengan mimik menuntut.
”Beres. Setelah shalat Isya nanti aku beli firakh masywi. Yang di rumah tinggal menanak nasi saja”! Jawab Ali. (Habiburrahman, 2008:230-231)
……………………………………………...
Di rumah Azzam suasana tegang belum hilang. Fadhil belum juga sadar sampai jam enam pagi.
“Bagaimana ini Kang”? Tanya Nanang cemas.
Azzam berfikir sebentar. Ia memang yang harus memutuskan. Sebab ia yang paling tua di rumah itu.
“Kita bawa ke rumah sakit. Kau cari taxi sana sama Ali. Fadhil biar aku yang tunggu”! kata Azzam.
“Baik Kang”.
Nanang dan Ali lalu keluar untuk mencari taksi. Lima belas menit kemudian mereka kemMesir dengan membawa taksi. Pagi itu juga fadhil mereka bawa ke Mustsdyfa Rab’ah El Adawea. Dokter yang memeriksa mengatakan, Fadhil harus dirawat di rumah sakit. (Habiburrahman, 2008:273-274)
……………………………………………...................................................................................
“Bagaimana keadaanmu Dhil”?
“Baik Kang. Tak ada yang perlu dicemaskan. Tapi aku perlu berbicara dengan Sampeyan tentang satu hal penting”. Jawab Fadhil.
“Sebentar Kang”, jawab Fadhil sambil memberi isyarat kepada adik-adiknya agar ia dan temannya meninggalkan kamar. Setelah keduanya keluar, Fadhil berkata,
“Bisa nggak Kang saya pulang sore ini”?
“Kenapa Dhil? Kau masih perlu perawatan?
“Terus terang Kang saya tidak punya uang. Adik saya juga. Kami tidak mungkin minta ibu kami di Indonesia”.
“Sudahlah kau jangan memikirkan hal itu dulu. Biar hal itu aku yang memikirkan, yang penting kamu sehat kemMesir. Ujian tidak lama lagi. Ingat itu”.(Habiburrahman, 2008:289-290)

b. Alur atau Plot
Alur adalah rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan sebab akibat sehingga menjadi satu-kesatuan yang padu, bulat, dan utuh. Berdasarkan hasil analisis terhadap novel Ketika Cinta Bertasbih 1, dapat dikemukakan beberapa alur yang terdapat di dalamnya sebagai berikut:
1) Alur awal: Pengarang memperkenalkan hubungan antara Azam dan Eliana yang tak lain adalah Putri Dubes RI yang membuat Azzam sempat jatuh hati karena kecerdasan serta kecantikan Eliana, dan persahabatan Azzam dengan Furqan yaitu temannya satu pesawat serta hubungannya dengan Eliana. Disini juiga pengarang mengisahkan bagaimana Azzam mengetahui tentang sosok Anna Althafunnisa’ sehingga ia ingin mengkhitbahnya tanpa mengenalnya terlebih dahulu.
………………………………………………………………………………………………………
Sesungguhnya bukan semata-mata cuaca dan suasana menjelang musim semi yang membuat Alexandria senja itu begitu memesona. Bukan semata-mata sihir matahari senja yang membuat Alexandria menakjubkan. Bukan semata-mata pasir putihnya yang bersih yang membuat Alexandria begitu menawan. Akan tetapi, lebih dari itu,
…………………………………….…………
Dan penyebab itu semua, tak laik tak bukan adalah seorang gadis pualam yang di matanya memiliki kecantikan bunga mawar putih yang merekah. Gadis yang di matanya seumpama permata safir yang paling indah.
……………………………………………….
Dialah Eliana Pramesthi Alam. Putri satu-satunya Bapak Duta Beasr Indonesia di Mesir.
……………………………………………….
Meskipun ia sudah berulangkali ke Alexandria, namun, keberadaannya di Alexandria kali ini ia rasakan begitu istimewa. Ia tidak bisa mengingkari dirinya adalah manusia biasa, bukan malaikat. Ia tak bisa menafikkan dirinya adalah pemuda biasa yang bisa berbunga-bunga karena merasa dekat dan dianggap penting oleh seorang gadis cantik dan terhormat seperti Eliana. Gadis yang membuat matahari kebahagian sedang bersinar terang di hatinya.
……………………………………………….
Entah kenapa, mendengar pujian dari Eliana itu, ia merasakan kebahagian dengan nuansa yang sangat lain.
Ia tersenyum sendiri. (Habiburrahman, 2008:41-44)

…………………………………………………………………………………………………….
Di sebuah toko buku di El Manshiya, Azzam bertemu dengan Furqan. Setelah berpelukan, Furqan mengajak Azzam menemaninya makan roti kibdah di samping sebuah masjid tua sambil berbincang-bincang. Azzam menuruti ajakan teman lamanya itu dengan senang.
“Saya sedang bingung menentukan pilihan”. Kata Furqan sambil mengunyah roti kibdah-nya.
“Pilihan apa”? Sahut Azzam kalem. Matanya memandang kea rah seorang kakek berjubah abu-abu yang berjualan tasbih dan kopiah putih. Kakek itu duduk termenung dan memandang kea rah jalan. Azzam berusha mereka-reka apa yang ada dalam pikiran kakek saat itu.
……………………………………………….
“Begini. Aku saat ini sedang dikejar-kejar sama Eliana. Putri Pak Dubes itu”.
“Dikejar-kejar Eliana? Ah yang benar Fur!? Azzam keget mendengar penuturan sahabatnya itu.
“Benar. Aku tidak bohong. Kau tahu sendiri Rul. Eliana itu bukan mahasiswa Al Azhar yang sangat menjaga akhlak. Ia lulusan Prancis. Ia langsung saja bicara terus terang padaku. Tadi malam dia menanyakan lagi jawabannku. (Habiburrahman, 2008:112-113)
............................................................................................................................................................
Anak gadisku itu aku titipkan kepada Pak Kiai Lutfi. Beliau jaga dan beliau didik dengan baik. Pada saat yang sama Pak Kiai Lutfi punya anak gadis yang sangat cerdas. Dan sangat cantik. Sungguh sangat cantik. Kecantikannya ibarat permata maknun yang mengalahkan semua permata yang ada di dunia. Aku berani bertaruh kecantikannya bisa mengatasi Eliana. Ini menurutku lho Mas. Sebab kecantikan seorang perempuan di mata lelaki itu relative. Dan untuk kecerdasannya aku berani bertaruh tak banyak gadis seperti dia. Aku tahu persis, sebab aku pernah belajar pada ayahnya selama setahun. Jika Eliana bisa bahasa Prancis dan Inggris. Maka Putri Pak Lutfi ini bisa bahasa Arab, Inggris, dan Mandarin. Saat di Madrasah Aliyah dia pernah ikut program pertukaran pelajar ke Weles, U.K. dan apa kau tahu di mana dia sekarang”?
Azzam menggelengkan kepala.
“Dia sekarang ada di Cairo. Sedang menempuh S.2 di Kuliyyatul Banat, Al Azhar. Dia sedang mengajukan judul tesisnya”.
Sedang S.2? Siapa namanya? Kok saya tidak pernah dengar ceritanya”.
“Namanya Anna Althafunnisa”.
“Anna Althafunnisa”?
“Ya”.
“Baru kali ini saya dengar nama itu. Aneh sekali. Padahal orang-orang di rumah saya semuanya aktivis. Tapi mereka kok tidak pernah menyebut-nyebut nama itu ya”?
“Tidak banyak orang yang tahu. Sebab Anna Althafunnisa menyelesaikan S.1-nya tidak di Cairo. Tapi di Alexandria sini. Ia lebih banyak berinteraksi dengan mahasiswa Malaysia daripada mahasiswa Indonesia. Dan Anna lebih menutup diri dari kegiatan-kegiatan yang bersifat glamour. Kalau kau sempat membaca majalah Al Wa’yu Al Islami, cobalah cari edisi bulan lalu. Ada artikel dia dimuat di sana. Dia memakai nama pena Anna Lutfi Hakim”.
“Sekarang dia tinggal di Cairo”?
“Iya. Dialah gadis cantik dan salehah yang aku maksud. Dan saat ini ayahnya menginginkan dia segera menikah. Aku pikir kamu lebih baik menikah dengan yang sekualitas Anna daripada dengan yang model Eliana. Kalau kamu mendapatkan Anna, kamu telah mendapatkan surga sebelum surga. Percayalah padaku. Aku tahu betul kualitas Anna, ayahnya, dan keluarganya. Mereka dari golongan-golongan yang ikhlas. Saran saya khibhlah Anna Althafunnisa itu sebelum bidadari Daarul Quran itu dikhitbah orang lain”.
Hati Azzam berbunga-bunga. Ada rasa sejuk yang tiba-tiba menyelinap ke dalam dadanya. Namun tiba-tiba diserang rasa ragu.
“Apa saya pantas melamarnya Pak? Apa saya pantas untukknya? Saya ini S.1 saja sudah sembilan tahun belum juga selesai. Dan apa prestasi saya? Apa yang bisa saya andalkan? Membuat tempe? Apa ada kiai yang mau anaknya menikah dengan penjual tempe”?
“Kenapa kamu jadi inferior begitu. Percayalah padaku, Pak Kiai Lutfi itu tidak pernah memandang dunia. Dunia itu remeh bagi beliau. Datanglah, lamarlah. Belilah tiket, pulanglah ke Indonesia dan lamarlah bidadari itu”!
“Waduh kalau harus pulang berat Pak. Apa tidak ada cara lain selain peulang”?
Pak Ali dia mengerutkan keningnya, sebentar kemudian, wajahnya cerah. Setengah berteriak ia menjawab. “Ada! Kau bisa melamar lewat Ustadz Mujab. Ustadz Mujab itu masih keluarga dekat Kiai Lutfi. Kau datangi saja Ustadz Mujab dan sampaikan maksudmu untuk disampaikan kepada Kiai Lutfi dan Anna. Insya Allah semua akan mudah. Ustadz Mujab lau kenal kan”?
“Wah lebih dari kenal. Saya sangat akrab dengannya.
………………………………………………
“Pak Ali punya fotonya”?
“Aduh sayang sekali tidak punya. Tapi itu tidak penting. Langsung saja kau lamar.
……………………………………………….
Tekadnya telah bulat. Begitu sampai di Cairo ia akan datang kerumah Ustadz Mujab. Datang untuk menanyakan gadis yang disbut-sebut Pak Ali sebagai “Bidadari dari Pesantren Darul Quran”.
Ia akan menanykan apakah gadis itu masih kosong, belum dikhitbah orang? Apakah gadis itu bisa dipinangnya? Kalau ya, maka ia akan langsung meminangnya. Saat itu juga kalau bisa. Tak ada lagi keraguan dalam hatinya. (Habiburrahman, 2008:96-99)

2) Alur tikaian : Pengarang menampilkan konflik antartokohnya yaitu tampak pada saat Azzam ingin meminang Anna Althafunnisa yang ia ketahui melalui Pak Ali seorang sopir Pak Dubes. Azzam akan meminang Anna melalui Ustadz Mujab yang masih punya hubungan keluarga dengan Anna tanpa harus pulang ke Indonesia. Alur ini bisa terlihat dalam kutipan novel berikut ini.
……………………………………………………………………………………………………….
Sampai di Cairo. Azzam langsung meluncur pulang ke rumahnya di Hay El Asher. Tepat menjelang Maghrib ia sampai di rumah.
……………………………………
Azzam langsung mandi. Setelah itu ia langsung pamitan pergi.
Azzam meluncur ke Hay El Sabe’. Ia shalat Maghrib di masjid Ridhwan. Tujuannya setelah itu hanya satu, yaitu ke rumah Ustadz Saiful Mujab, untuk melamar Anna Althafunnisa. Ia sampai ke masjid itu saat imam sudah rakaat kedua. Ia bahagia melihat Ustadz Mujab ada. Di shaf kedua. Ia takbir di shaf ketiga. Selesai shalat ia bertemu dengan Ustadz Mujab. Dan Ustadz Mujab tersenyum gembira berjumpa dengannya.
………………………………………………...
Mereka lalu pergi ke rumah Ustadz Mujab yang tak aju dari masjid Ridhwan itu. Ustadz Mujab yang sedang S.2 di Institut Liga Arab itu hidup di Cairo bersama keluarganya.
………………………………………………...
Setelah duduk di ruang tamu beberapa saat, dan teh panas dikeluarkan bresama satu piring roti cokelat, Ustadz Mujab bertanya pada Azzam dengan mata memandang lekat-lekat,
“Ada urusan apa? Apa yang bisa kubantu”?
“Saya sebenarnya malu Ustadz. Saya tidak tahu dari mana saya harus memulai”. Jawab Azzam.
“Tidak usah malu. Jika kebaikan yang dicari tidak usah malu”.
“Baiklah Ustadz. Saya ingin minta bantuan Ustadz untuk melamar seseorang untuk saya”. Kata Azzam dengan suara bergetar.
“Oh itu. Begitu saja kok malu. Kamu memang sudah saatnya kok Rul”.
………………………………………………...
“Aku akan membantu sebisaku. Siapa nama gadis yang kau pilih itu. Dan siapa nama orangtuanya? Orang mana? Kalau di Al Azhar, tingkap berapa”? Ustadz Mujab melanjutkan.
Dengan mengumpulkan semua keberaniannya ia menjawab dengan suara bergetar. Dan degan hati bergetar pula,
“Namanya Anna Althafunnisa Putri Pak Kiai Lutfi Hakim. Asal Klaten. Kalau tidak salah sekarang sedang program pascasarjana di Kuliyyatul Banat, Al Azhar”.
Ustdz Mujab Kaget mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Azzam.
…………………………………...................
Ustadz Mujab menghela nafa panjang. Ia hendak mengeluarkan sesuatu yang menyesak di dadanya.
……………………………………………
“Allahlah yang mengatur perjalanan hidup ini. Sungguh aku ingin membantumu Rul. Tapi agaknya takdir tidak menghendaki aku untuk membantumu kali. Anna Althafunnisa itu masih terhitung sepupu denganku. Aku tahu persis keadaan dia saat ini. Sayang kau datang tidak tepat waktunya. Anna Althafunnisa sudah dilamar orang. Ia sudah dilamar oleh temanmu sendiri”.
….………………………………..................
Mendengar hal itu tulang-tulang Azzam bagai dilolosi satu persatu. Lidah dan bibirnya terasa kelu. Furqan lagi. Ia berusaha keras mengendalikan hati dan perasaannya untuk bersabar. (Habiburrahman, 2008:121-125)

Setelah lamarannya kepada Anna tak berhasil dan ditolak oleh Ustadz Mujab karena Anna telah dilamar oleh Furqan dan Ustadz Mujab menganggap bahwa Anna tidak sebanding dengannya. Azzam akhirnya memutuskan untuk lebih giat lagi bekerja dan konsentrasi untuk kuliah, karena adik-adiknya masih membutuhkan biaya hidup darinya. Ia yakin suatu saat akan mendapatkan jodoh sekualitas dan secantik Anna Althafunnisa.
3) Alur gawatan: Konflik para tokoh semakin seru. Hal ini tampak dari pertikaian antara Azzam dan Polisi. setelah beberapa bulan ia mampu mengatasi masalhnya dan pokus untuk bekerja, pandangan Ustadz Mujab akan dirinya membuatnya semakin serius dalam berusaha dan kuliah, ia tidak lagi memikirkan jodoh, toh Allah akan memberikannya yang lebih salehah dari Anna, itulah harapannya malam itu, lalu ia merebahkan badannya untuk istirahat setelah selesai membuat bola bakso. Tak berapa lama setelah merebahkan badan tiba-tiba pintu rumahnya digedor oleh tamu yang tak diundang. Dan ternyata mereka adalah Polisi Mesir yang datang mencari Wail yaitu seorang penjahat yang menjadi buronan saat ini. Alur ini tampak pada kutipan novel….
…………………………………………………………………………………………………….
Jam beker kedua sudah dua menit berdering, Azzam tidak juga bangun. Tiba-tiba….
Dar…dar…dar..!
Azzam tersentak. Seluruh penghuni rumah itu juga terbangun kaget! Dan …
Dar…dar…dar…!
Iftahil baab! Iftahil baab!
Ada suara mengetuk pintu dengan keras disertai perintah untuk membuka pintu juga dengan suara keras. Mata Azzam masih berkunang-kunang. Kepalanya masih terasa sangat berat. Namun telinganya bisa menangkap dengan jelas itu adalah suara orang Mesir. Belum sempat beranjak dari tempat tidur. Gedoran keras kemMesir terdengar.
Dar…dar…dar…!
Iftahil baab! Iftahil baab!
Ia tersadar dengan membawa kemarahan diubun-ubunnya.
……………………………………………….
“Mana Wail”!
Ia mundur. Ali menyalakan lampu. Seketika tiga orang berseragam hitam menerjang masuk dan langsung menutup pintu. Azzam beruaha tenang meski nyalinya ciut saat itu.
“Di rumah ini tak ada yang bernama Wail! Kami juga tidak mengenal Wail kecuali Wail Kafuri, penyanyi pop yang terkenal itu”. Jawab Azzam tenang dengan suara sedikit bergetar.
“Jangan bohong! Kami yakin Wail El Ahdali ada di rumah ini! Kami akan periksa. Jika ia ada di rumah ini, kalian semua akan kami bawa! Kami mabahits dari amm daulah. Orang Mesir tinggi besar dan berkumis tipis itu menjelaskan siapa mereka dengan nada ancaman yang membuat Azzam tersadar dengan siapa dia berhadapan. (Habiburrahman, 2008:261-263)

4) Alur puncak: Konflik puncak yang terjadi dalam cerita Ketika Cinta Bertasbih adalah ketika tokoh utama “Azzam” ketika perdebatannya dengan mabahits dan ia dibentak oleh anggota mabahits tersebut yang mengakibatkan semua anggota rumah Azzam diam ditempat dan tek berani berbicara kecuali jika ada pertanyaan dari polisi Mesir itu. Peristiwa tergambar melalui penggalan berikut ini.
………………………………………………………………………………………………………
Entah kenapa, ia yakin Wail tidak ada di situ, maka dengan tegas ia menjawab,
“Kapten, meskipun kalian mabahits, kalian tidak bisa seenaknya masuk rumah kami tanpa ijin. Tidak bisa seenaknya menginjak-injak kehormatan kami. Kami tidak kenal siapa itu Wail yang kalian maksud. Di rumah ini tidak ada yang bernama Wail. Sebaiknya kalian segera keluar dari rumah ini. Karena kami tidak mengijinkan kalian masuk”!
“Sebaiknya kamu diam saja di tepatmu. Jangan macam-macam”! bentak si Kumis Tipis pada Azzam, lalu memerinthkan anak buahnya untuk memeriksa seluruh sudut ruangan.
Ali, Nanang dan Fadhil berdiri gemetar. Bibir mereka biru. Tak sepatah kata pun mereka ucapkan. Tak terasa ada yang membasahi celana Fadhil. Anak Aceh itu didera ketakutan yang amat sangat.
……………………………………………….
Tiba-tiba Fadhil merasa tulang-tulangnya seperti hilang. Ia merasa seperti lumpuh. Lalu ingatannya hilang. Ia pingsan. Tubuhnya ambruk di lantai. Azzam kaget.
……………………………………………….
“Jika ada apa-apa dengan temanku ini, kalian harus bertanggung jawab. Jika misalnya ia terkena serangan jantung dan mati, maka kalianlah pembunuhnya dan itu akan diselesaikan secara diplomatic”! Geram Azzam sambil memandang si Kumis Tipis. (Habiburrahman, 2008:263-265)

5) Alur leraian: Perkembangan alur mulai terungkap. Bagian cerita novel ini dapat dicermati melalui perjalanan Azzam yang menyerah pada polisi mesir untuk memeriksa diri dan teman-temannya dan menggeledah setiap sudut ruangan rumahnya, dan hasilnya sang polisi memang tidak menemukan orang yang mereka cari, ia lalu meninggalkan Azzam dan teman-temannya yang masih ketakutan.
Sebagai kepala rumah akhirnya Azzam membawa Fadhil ke rumah sakit untuk di rawat selama beberapa hari dan dengan ikhlas hati Azzam membayar semua biaya pengobatan Fadhil. Karena, saat itu Fadhil dan adiknya Cut Mala tidak mempunyai uang dan mereka tidak mungkin minta kiriman dari Indonesia. Sebagaiman tergambar dalam penggalan cerita berikut.
……………………………………………………………………………………………………….
“Bisa nggak Kang saya pulang sore ini”?
“Kenapa Dhil? Kau masih perlu perawatan”?
“Terus terang Kang, saya tidak punya uang. Adik saya juga. Kami tidak mungkin minta ibu kami di Indonesia”.
“Sudahlah kau jangan memikirkan hal itu dulu. Biar hal itu aku yang memikirkan, yang penting kamu sehat kemMesir. Ujian tidak lama lagi. Ingat itu”.
“Kalau bisa pulang secepatnya. Cobalah bicara kepada dokternya, jika nanti dia datang”.
“Baiklah”.
“Terima kasih Kang”.
“Ya sama-sama.
(Habiburrahman, 2008:290)
………………………………………………..
Hari berikutnya Fadhil boleh dibawa pulang. Untuk biaya rumah sakit, Azzam harus merelakan uang hasil kerja kerasnya berjualan bakso. (Habiburrahman El Shirazy, 2008:303)
………………………………………………..
“O ya Kak, biaya rumah sakit kemarin bagaimana? Kaka dapat uang dari mana?
“Alhamdulillah. Semua telah dibayarkan Kang Azzam. Meskipun Kang Azzam tidak minta dikemMesirkan, suatu saat nanti jika ada rezeki pasti akan kakak kemMesirkan, Kang Azzam terlalu baik bagi anggota rumah ini. Terkadang aku iri padanya. Iri akan kebaikan dan sifat pemurahnya”.
“O jadi Kang Azzam yang menutup semuanya”.
“Iya. Kemarin dia baru bekerja keras dapat order bikin bakso. Mungkin uang hasil dia bikin bakso itu yang digunakan untuk menutup biaya rumah sakit kakak”. (Habiburrahman, 2008:319)


6) Alur akhir: Saat seluruh peristiwa atau konflik telah terselesaikan. Bagian terakhir ini dalam novel Ketika Cinta Bertasbih 1 dapat dicermati melalui peristiwa yang dialami para tokoh terutama tokoh utama yaitu Azzam. Keadaan Azzam dan teman-temannya sudah lebih baik. Azzam tidak lagi memikirkan tentang polisi mesir yang telah membuat seisi rumah gemetaran, ia tidak lagi memikirkan sosok Anna Althafunnisa yang belakangan ia ketahui pada acara seminar sehari membahas sejarah ulama perempuan di Asia Tenggara dan ternyata Anna adalah orang yang pernah ia tolong ketika akan pulang dari pasar Sayyeda Zaenab karena kecopetan.
Ia curahkan segenap konsentrasinya kepada mata kuliahnya. Dan sekarang semua mahasiswa lagi sibuk-sibuknya belajar. Karena, sedang ada ujian di kampus Al-Azhar. Azzam, ia mempersiapkan ujian dengan serius.
Pulang. Itulah keinginan Azzam setelah selesai ujian dan ia semakin termotivasi dengan surat yang diterima dari adiknya Ayatul Husna dan memintanya untuk segera pulang. Hal itu tergambar pada penggalan di bawah ini.
………………………………………………………………………………………………………
Menemui
Kakaku Tercinta
Abdullah Khairul Azzam
Di Kota Seribu Menara

Assalamu’alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Kak, bagaimana kabarmu? Sudah selesai ujian ya. Ketika membaca surat ini, kami yang di Indonesia berharap dalam sehat, baik tak kurang suatu apa dan selalu dalam dekapan kasih sayang Allah Swt. Amin. Kami juga berdoa semoga kakak lulus ujian, dan meraih gelar Lc. Dengan predikat memuaskan. Amin.
Kami yang di Tanah Air alhamdulillahI baik. Aku, Lia, dan Ibu pertengahan Juli ini mau menjenguk Sarah ke Kudus. Adik bungsu kita hebat Kak. Saat liburan sekolah datang, ia tidak mau pulang, ia tetap ingin di pondok. Katanya di pondok bisa menambah hafalan Al-Quran. Ah, aku jadi ingat kakak. Kata ibu, si Sarah itu sangat mirip kakak. Lebih suka di pondok daripada di rumah. Semangat menuntut ilmunya luar biasa. Otaknya pun cerdas. Doakan kami semua ya Kak.

Kak, Azzam terkasih,

Persisnya kapan kakak berencana pulang? Kami benar-benar sudah kangen. Apalagi Ibu, beberapa kali aku mendengar ibu mengigau dengan menyebut nama kakak berulang-ulang. Kami harap kakak pulang secepatnya. Begitu ada kesempatan pulang langsung pulang.
Oh ya Kak, sedikit kabar gembira. Buku kumpulan cerpenku yang berjudul “Menari Bersama Ombak” mendapatkan penghargaan dari Diknas sebagai kumpulan cerpen terbaik tahun ini. Aku diundang ke Jakarta untuk menerima hadiah awal bulan Agustus. Jika kakak bisa pulang sebelum itu, atau pas aku di Jakarta sangat baik. Kita bisa bertemu di Jakarta dan kakak bisa melihat adikmu menerima penghargaan itu.
Kak Azzam yang kami nanti, ini dulu ya. Kami menunggumu setiap hari. Kami juga mendoakanmu tiada henti. Dan seperti biasa, seperti yang sudah-sudah Lia titip salam. Salam rindu dan kangen tiada tara katanya. Sarah titip kecupan cinta katanya. Ibu titip setetes airmata cinta dan bangga untukmu kakakku tercinta. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan taufik-Nya kepada kakak. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Wassalam,

Ta’zhim adikmu,

Ayatul Husna
(Habiburrahman, 2008:413-415)


Selanjutnya berdasarkan kualitasnya, novel Ketika Cinta Bertasbih 1 memiliki alur longgar. Artinya, novel Ketika Cinta Bertasbih 1 memungkinkan memunculkan percabangan cerita. Hal tersebut dapat dicermati melalui bagian cerita yang membahas tentang penggedoran rumah Azzam oleh Polisi Mesir karena ingin mencari seorang buronan bernama Wail El Ahdali. Hal itu diperkuat dengan munculnya bagian cerita seperti berikut ini.
……………………………………………………………………………….
Jam beker kedua sudah dua menit berdering, Azzam tidak juga bangun. Tiba-tiba….
Dar…dar…dar..!
Azzam tersentak. Seluruh penghuni rumah itu juga terbangun kaget! Dan …
Dar…dar…dar…!
Iftahil baab! Iftahil baab!
Ada suara mengetuk pintu dengan keras disertai perintah untuk membuka pintu juga dengan suara keras. Mata Azzam masih berkunang-kunang. Kepalanya masih terasa sangat berat. Namun telinganya bisa menangkap dengan jelas itu adalah suara orang Mesir. Belum sempat beranjak dari tempat tidur. Gedoran keras kemMesir terdengar.
Dar…dar…dar…!
Iftahil baab! Iftahil baab!
Ia tersadar dengan membawa kemarahan diubun-ubunnya.
……………………………………
“Mana Wail”!
Ia mundur. Ali menyalakan lampu. Seketika tiga orang berseragam hitam menerjang masuk dan langsung menutup pintu. Azzam beruaha tenang meski nyalinya ciut saat itu.
“Di rumah ini tak ada yang bernama Wail! Kami juga tidak mengenal Wail kecuali Wail Kafuri, penyanyi pop yang terkenal itu”. Jawab Azzam tenang dengan suara sedikit bergetar.
“Jangan bohong! Kami yakin Wail El Ahdali ada di rumah ini! Kami akan periksa. Jika ia ada di rumah ini, kalian semua akan kami bawa! Kami mabahits dari amm daulah. Orang Mesir tinggi besar dan berkumis tipis itu menjelaskan siapa mereka dengan nada ancaman yang membuat Azzam tersadar dengan siapa dia berhadapan. (Habiburrahman, 2008:261-263)

Di dalam alur ini digambarkan dan dijelaskan bagimana pertikain polisi Mesir dalam mengintrogasi Azzam dan teman-temannya karena polisi tersebut curiga mereka menyembunyikan penjahat bernama Wail El Ahdali yang selama ini dicari-cari oleh Kepolisian Mesir. Walhasil Polisi Mesir tersebut tidak menemukan Wail karena Azzam dan teman-temannya memang tidak mengenal Wail.
Percabangan cerita dalam novel Ketika Cinta Bertsbih 1 juga dapat dujumpai pada bagian cerita yang menguraikan tentang Furqan yang diduga mengidap HIV Aids setelah mengadakan pemeriksaan darah di rumah sakit Mesir.
…………………………………………………………………………………………………………..
“Hidupku sudah tamat. Aku sudah mati! Lebih baik aku langsung dikubur saja daripada aku harus menanggung aib yang sangat memalukan diriku, ibuku, ayahku, dan keluargaku”!
“Bersabarlah. Sebagian besar orang yang terkena HIV memang akibat dari perbuatan dosa, perbuatan dosa yang menjijikkan. Namun ada yang terkena HIV bukan karena dosanya. Hanya karena takdir telah menggariskan dia demikian, sebagai ujian, yang kau harus lulus dengan hasil terbaik di sisi allah”?
…………………………………………….........
Furqan pingsan. Petugas itu membawa furqan masih terisak-isak. Pada saat itu Kolonel Fuad datang. Ia berbincang sebentar dengan petugas. Ia lalu melihat Furqan. Kolonel Fuad mengamankan segala sesuatunya. Ia meminta kepada pihak rumah sakit untuk menjaga kerahasiaan apa yang dialami Furqan. Dia mengatakan “Pihak Keamanan Negara yang akan langsung menangani hal ini”. Kolonel Fuad lalu menunggu Furqan sampai siuman. (Habiburrahman, 2008:400-401)


Dari segi kuantitasnya, novel Ketika Cinta Bertasbih 1 menggunakan alur ganda atau alur yag lebih dari satu.
Sedangkan menurut urutan waktu, novel Ketika Cinta Bertasbih 1 menggunakan alur lurus. Artinya, pengarang melukiskan peristiwa-peristiwa secara urut dari awal hingga akhir cerita.
Kemudian ditinjau dari segi bagian yang mengakhiri cerita, alur novel Ketika Cinta Bertasbih 1 menggunakan alur terbuka. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengarang tidak menyelesaikan langsung ceritanya. Sebagaimana tergambar dalam penggalan berikut.
……………………………………………………………………………………………………………….
Sebentar lagi ia akan melakukan perjalanan panjang pulang ke Indonesia bertemu dengan Husan, Lia, Sarah dan ibundanya tersayang. Tiba-tiba ia didera rasa rindu dan haru teramat mendalam. Setelah sembilan tahun lebih di perantauan ia akhirnya akan segera pulang.
“Kalau Anda mau, nanti di Jakarta aku kenalkan dengan ayahku”.
Ucap Sara usai berdoa. Azzam masih menunduk dan memejamkan mata. Ia masih larut dalam doanya. Pesawat berjalan semakin kencang. Dan akhirnya terbang meninggalkan tanah Mesir. Azzam merasakan hatinya bergetar.
Ketika pesawat telah mengangkasa beberapa saat lamanya awak pesawat mengumumkan sabuk pengaman boleh dilepas. Pesawat berjalan dengan stabil dan tenang. Azzam kemMesir melanjutkan membaca Koran. Para pramugari mulai sibuk membagi makanan dan minuman. Di antra deru mesin pesawat Azzam mendengar seseorang memanggilnya pelan.
“Mas Irul”.
Ia menoleh ke samping kanan. Eliana.
Eliana berdiri di sampingnya.
“E…ya”.
“Mas Irul. Mas Irul pindah ke kursi di samping saya ya. Nomor 15 F. Saya sudah bilang pada orang samping saya untuk bertukar kursi dengan Mas Irul. Saya ingin banyak bercerita pada Mas Irul. Bagaimana Mas”?
Azzam tidak langsung menjawab, ya. Ia menoleh ke gadis Mesir di sampingnya. Gadis itu sedang membaca majalah yang disediakan pesawat. Saat Azzam ragu Eliana terus mendesak. Akhirnya Azzam mengangguk dengan hati berdebar. Ia tak kuasa menolak permintaan Putri Pak Dubes itu. Ia tidak menemukan alasan kuat untuk menolaknya. Saat berjalan kea rah 15 F mengikuti Eliana. Azzam sempat berdoa dalam hati, “Ya Allah jagalah hamba-Mu yang lemah ini”.(Habiburrahman, 2008:475-477)

Terakhir, pemilihan alur dari segi tokoh, novel Ketika Cinta Bertasbih 1 menggunakan alur kompleks. Artinya, novel ini melibatkan suatu kelompok tokoh. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa cerita bermula dari hubungan Azzam dengan Eliana yang merupakan pelanggan Azzam yang selalu memberikan keuntungan besar terhadap bisnis baksonya. Lalu cerita bergerak dengan menampilkan tokh-tokoh lain seperti Pak Ali, Furqan, Anna Althafunnisa, teman-teman Azzam. Begitu seterusnya hingga mengungkapkan seluruh tokoh yang ada.
c. Penokohan/Perwatakan
Penokohan atau perwatakan dalam cerita fiksi, seperti novel, merupakan penciptaan citra tokoh yang dapat meyakinkan pembaca sehingga pembaca seolah-olah merasa berhadapan langsung dengan manusia yang sebenarnya.
Dari hasil analisis ditemukan bahwa penokohan atau perwatakan yang terdapat dalam cerita novel Ketika Cinta Bertasbih 1, ditinjau dari aspek penampilan menggunakan tokoh bulat atau round character. Tokoh utama “Azzam” misalnya, digambarkan mengalami perubahan nasib yang semula merupakan mahasiswa yang memilki predikat jayyid Jiddan berubah menjadi mahasiswa yang dikenal tidak lulus S.1 sampai sembilan tahun dikarenakan ia harus menjadi tulang punggung keluarganya karena ayahnya meninggal. Hal ini dapat dicermati pada penggalan berikut.
………………………………………………………………………………………………………………..
“Kang Azzam itu sama seperti kita, seorang anak yatim. Dia anak sulung. Adik perempuannya ada tiga. Dialah yang selama ini bekerja keras menghidupi adik-adiknya. Terutama membiayai sekolah adik-adiknya. Ya dengan membuat temped an bakso. Ia ingin adiknya semua sekolah, maka ia korbankan dirinya. Sebenarnya Kang Azzam itu sangat cerdas. Tak kalah dengan dirimu. Dulu, tahun pertama di Al Azhar ia Jayyid Jiaddan. Ia juga dapat beasiswa dari Majlis A’la. Namun tahun kedua ayah beliau meninggal. Sementara ibunya sering sakit-sakitan. Ia akhirnya mengalihkan konsentrasinya. Dari belajar ke bekerja. Ia di Cairo ini untuk bekerja sambil belajar. Sejak itu prestasinya menurun. Beberapa kali tidak naik tingkat. Ia sudah sembilan tahun di Mesir tapi masih juga belum lulus S.1. (Habiburrahman, 2008:319)

Penggambaran tokoh utama Azzam di atas sangat tepat dengan karakter atau perwatakan yang harus dijalaninya dalam cerita. Watak bulat yang mendera nasib Azzam tidak sekedar batin tapi juga fisiknya.
Azzam : sesuai namanya yang berarti “ punya tekad kuat “ ia adalah sosok yang cerdas terbukti ia satu-satunya mahasiswa Indonesia yang lulus dengan predikat jayyid jiddan (sangat baik). Tapi kecerdasan akademiknya tak nampak ketika ia harus memikul tanggung jawab ayahanda tercinta yang dipanggil kehadapan yang maha kuasa. Diapun berubah menjadi seorang sosok yang tegar, tegas, dinamis bertekad baja sekaligus menjadi seorang pemurah, anutan bagi teman-temannya dan wajahnya yang rupawan menjadi idaman bagi setiap mahasiswi yang mengenalinya. Dia harus berjuang demi menghidupi biaya kuliahnya, ibunya yang sakit juga adik-adiknya yang harus melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Untuk semua kebutuhan itu dia banting tulang dengan menjadi seorang penjual tempe dan bakso dan itu sukses berkat ketekunan, kerja keras, ketegasan, amanah dan keimanannya yang kuat. Eliana : Seorang putri duta besar Indonesia untuk Negeri Piramid yang berwajah rupawan nan cerdas. Mahasiswi jebolan perancis ini menjadi idola dan buah bibir para mahasiswa Indonesia termasuk Azzam simahasiswa businessman sempat tergetar ketika mendengar namanya walaupun pada akhirnya tingkahnya yang ala perancis mengharuskan si penjual tempe ini menghapus daftar nama gadis yang terbiasa dengan “frenchkiss” nya itu karena menyalahi prinsip gadis pujaannya. Penokohan Eliana ini tergambar dalam penggalan novel berikut:
…………………………………………………………………….……………………………………………………………………………Gadis itu adalah kilau matahari di musim semi. Sosok yang sedang menjadi buah bibir di kalangan mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Mesir. Gadis yang pesonanya dikagumi banyak orang. Dikagumi tidak hanya karena kecantikan fisiknya, tapi juga karena kecerdasan dan prestasi-prestasi yang telah diraihnya. Lebih dari itu, gadis itu adalah putri orang nomor satu bagi masyarakat Indonesia di Mesir.
Dialah Eliana Pramesthi Alam. Putri satu-satunya Bapak Duta Besar Republik Indonesia di Mesir. Hampir genap satu tahun gadis itu tinggal di Mesir. Selain untuk menemani kedua orangtuanya, keberadaannya di Negeri Pyramid itu untuk melanjutkan S.2-nya di American University in Cairo (AUC).
Belum begitu lama menghirup udara Mesir, gadis yang memiliki suara jernih itu langsung menunjukkan prestasinya. Kontan, ia langsung jadi pusat perhatian. Sebab baru satu bulan di Cairo, tulisan opininya dalam bahasa Inggris sudah dimuat di koran Ahram Gazzette. Opininya menyoroti peran Liga Arab yang mandul dalam memperjuangkan martabat anggota-anggotanya. Liga Arab yang tak punya nyali berhadapan dengan Israel dan sekutunya. Liga Arab yang hanya bisa bersuara, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Tulisannya rapi runtut, berkarakter, tajam dan kuat datanya. Orang dengan pengetahuan memadai, akan menilai tulisannya merupakan perpaduan pandangan seorang jurnalis, sastrawan dan diplomat ulung.
Karena opininya itulah ia langsung diminta jadi bintang tamu di Nile TV. Di layar Nile TV ia berdebat dengan Sekjen Liga Arab. Hampir seluruh masyarakat Indonesia di Mesir menyaksikan siaran langsung istimewa itu. Baru kali ini ada anak Indonesia berbicara di sebuah forum yang tidak sembarang orang diundang. Sejak itulah Eliana menjadi bintang yang bersinar di langit cakrawala Mesir, terutama di kalangan mahasiswa Indonesia.
Terhitung, gadis yang menyelesaikan S.l-nya di EHESS Prancis itu sudah tiga kali tampil di layar televesi Mesir. Sekali di NileTV. Dua kali di Channel 2. Wajahnya yang tak kalah pesonanya dengan diva pop dari Lebanon, Nawal Zoughbi, dianggap layak tampil di layar kaca. Selain karena ia memang putri seorang duta besar yang cerdas dan fasih berbahasa Inggris dan Prancis. (Habiburrahman, 2008 :41-42)


Furqon : Teman Azzam, satu pesawat ketika pergi ke Mesir seorang pelajar rupawan, cerdas dan tajir prinsipnya yang matematis dan logic terhadap semua hal yang ia lakukan, hasil yang boleh ia perkirakan dan ibadah yang selalu ia lakukan dan doa yang ia panjatkan membawanya pada kesuksesan. Tapi ketajirannya walaupun tidak menyalahi aturan membawanya pada nasib yang kurang beruntung, seorang wanita antah berantah yang tidak diketahui asal muasal wanita syetan yang dikirim jionis Israel menghantarkannya pada penyesalan, merasa hina dan hampir memutuskan harapannya, karena wanita pirang kiriman mosad itu telah menularkan penyakit yang ditakuti seluruh umat manusia karena belum ditemukan obatnya, yaitu penyakit AIDS.
……………………………………………………………………………………………………………………………………
Laa haula wa la quwwata illa billah! Inna lillah!" Ia berkata setengah teriak. Ia kaget bagai tersengat listrik. Bagaimana mungkin ia bisa tidur tanpa busana. Tidur hanya bertutupkan selimut saja. Padahal ia tidur tidak dalam keadaan seperti itu. Ia tidur dengan kaos panjang dan celana panjang.
Ia melihat kaos panjang dan celana panjangnya tergeletak di lantai. Ia bingung dengan diriya sendiri. Apa saat tidur dia mengigau dan melepas pakaiannya tanpa sadar. Ia merasa tidak yakin. Sepanjang hidupnya baru kali ini ia bangun tidur dengan kondisi yang menurutnya sangat memalukan. Ia langsung bangkit, mencuci muka dan mengambil air wudhu. Ia harus segera meng-qadha shalat Subuh. Pikirannya benar-benar kacau. Hatinya tidak tenang. Ia shalat dengan tidak bisa khusyuk sama sekali. Perasaan berdosa karena shalat tidak tepat pada waktunya terus menggelayut di pikirannya.
Pagi yang bagi sebagian besar penduduk Kota Cairo sangat cerah itur baginya terasa sangat suram. Kekagetannya tidak berhenti sampai di situ. Selesai shalat ia bermaksud menghidupkan laptopnya dan untuk mendengarkan nasyid Raihan dengan winamp, namun ia tersentak dengan adanya sebuah foto di atas laptopnya yang tergeletak di atas meja. Poto itu adalah foto dirinya dengan seorang perempuan berambut pirang dalam kondisi sangat memalukan. Foto yang membuatnya gemetar dan didera kecemasan luar biasa, juga rasa geram yang menyala. Sesaat ia bingung harus berbuat apa. Ia sendiri tidak tahu perempuan berambut pirang itu siapa? Bagai-mana itu semua bisa terjadi? Dan dirinya? Apa yang se-benarnya telah dilakukan perempuan itu pada dirinya? Dan apa yang telah dilakukannya dengan perempuan itu?
Serta merta ia disergap rasa sedih yang menusuk nusuk jiwa. Airmatanya meleleh. Ia merasa telah ternoda. Harga diri dan kehormatannya telah hancur. Ia merasa tidak memiliki apa-apa. Ia merasa menjadi manusia paling ter-puruk dan terhina di dunia. Sesaat lamanya ia bingung. Ia didera rasa cemas dan ketakutan yang begitu besar sehingga ia tidak tahu harus berbuat apa? Foto itu ia rasakan bagaikan pedang yang siap menggorok lehernya. Dunia terasa hitam-pekat baginya. Ia berusaha mengendalikan dirinya. Ia meyakinkan dirinya bahwa ia adalah seorang lelaki. Ya. Seorang lelaki sejati tepatnya. Seorang yang berani menghadapi masa-lah yang ada di hadapannya. Ia adalah Mantan Ketua PPMI yang disegani.
Ia harus bisa menguasai diri. Harus bisa bertindak tepat, cepat dengan akal sehat. Ia amati foto itu sekali lagi. Ia Mesirk. Ia menangkap sesuatu. Sebuah pesan singkat:

Please read "myoptions.doc" in ur notebook!

Furqan langsung menyalakan laptopnya dan mencari file yang beriudul myoptions.doc. Langsung ketemu. Ia buka. Sebuah pesan dengan bahasa Arab muncul di layar. Tuan Furqan, begitu bangun tidur Anda pasti kaget dengan keadaanmu dan dengan apa yang kau temukan. Saya sudah tahu siapa Anda. Tak usah berbelit-belit. Kita langsung ke inti masalah. Ini murni masalah bisnis. Bisnis kecil-kecilan antara Tuan dan saya. Saya sudah punya foto-foto "menarik" dengan Tuan. Jika Tuan ingin foto ini tidak jadi konsumsi umum maka sebaiknya Tuan melakukan dua hal ini: Pertama, jangan lapor ke polisi. Kedua, silakan transfer uang sebesar 200.000 USD. Ke nomor rekening ini: 68978967605323 Banca Com-merciale Italiana Roma (jangan lupa dicatat, sebab begitu file ini Tuan tutup, file ini akan langsung musnah). Saya beri tenggang waktu 2 x 24 jam untuk mentransfer. Ketiga, setelah uang masuk rekening saya, maka saya akan kirim seluruh film negatif dari foto-foto tersebut dan saya jamin tak ada yang saya tahan. Terima kasih atas kerjasamanya.
Miss I taliana. (Habiburrahman, 2008:276-279)

Anna Altafunnisa : altaf (berarti lembut), nisa (artinya wanita) altafunnisa artinya wanita yang lembut, sesuai namanya ia sosok wanita yang lembut, jamilah dan cerdas tapi jarang yang tahu tentang kecantikan dan kecerdasannya ini. Berita Kelembutan dan kecantikan putri kiai ini melunturkan si penjual tempe “ azzam” dan membius si pemuda cerdas “furqon”. Kecerdasannya ditunjukan dengan pengalamannya menjadi wakil Indonesia dalam pertukaran pelajar Indonesia dan Wales. Kecantikan dan Kefasihan bahasa inggrisnya dalam moderator suatu seminar menjadikannya buah bibir dikalangan para mahasiswa Indonesia. Tokoh Anna tergambar dalam kutipan novel
………………………………………………………………………………………………………………………………
Hari yang dinanti oleh mahasiswa Asia Tenggara tiba. Seminar sehari membahas sejarah ulama perempuan di Asia Tenggara digelar juga. Peserta membludak. Di antara daya tariknya , selain nara sumbernya adalah tiga professor dari universitas terkenal di dunia, juga lantaran dimeriahkan oleh Group Nasyid terkemuka dari Malaysia. Auditorium Shalah Kamil Al Azhar University penuh sesak. Peserta yang hadir di luar prediksi panitia. Karena sudah mendekati ujian panitia mentargetkan enam puluh persen kursi ruangan Shalah Kamil terisi sudah bagus. Beberapa mahasiswa yang tidak bisa masuk ruangan sempat protes. Tapi panitia bisa menenangkan keadaan.
Seminar itu berjalan sangat hidup. Anna Althafunnisa jadi bintang yang bersinar cemerlang. Bahasa Inggrisnya yang khas Wales serta pengetahuannya yang luas, ditambah guyonan-guyonan segarnya benar-benar menghidupkan suasana. Hadirin selalu berdecak kagum dan tersihir oleh kepiawaian mahasiswi dari Indonesia yang selama ini tidak banyak dikenal itu.
“Uedan, moderatornya siapa itu Cak? Cuantik, pinter dan bahasa Inggrisnya fasih buetul! Anake sopo yo kae”? Seorang mahasiswa dari Surabaya berkomentar pada temannya. (Habiburrahman, 2008:350-351)

Ayatul Husna, Lia, dan Sarah, mereka adalah adik-adik Azzam yang tinggal di Indonesia dan berperangai sangat baik, mereka adalah contoh wanita shalihah, lemah lembut, taat pada orang tua. Tokoh-tokoh ini tergambar dalam penggalan novel
...................................................................................................................................................................................................
Kak, Alhamdulillah, kami semua di rumah baik, sehat wal afiyat, berlimpah rahmat Allah. Ibu Alhamdulillah baik dan sehat. Beliau sudah sangat rindu pada kakak. Husna sendiri juga sehat. Dua minggu yang lalu Husna menerima ijazah profesi, Husna sudah bisa praktek sebagai psikolog. Segala puji bagi Allah Swt. Ini tidak lepas dari dari jasa Kakak. Lia sudah menyelesaikan D.2. PGSD-nya. Ia kini mengajar di SDIT Al Kautsar Solo. Dan Sarah masih belajar di Pesantren Al-Quran di Kudus. Terakhir Husna ke Kudus ia sudah hafal Juz 27, 28, 29, dan 30. (Habiburrahman, 2008:333-334)

Fadil, Hafez, Nanang, dan Ali, mereka adalah sahabat yang baik dan merupakan adik tingkat Azzam. Mereka merupakan keluarga bagi Azzam, keakraban dan kekeluargaan yang dimiliki oleh sahabat-sahabat Azzam diperkuat dengan penggalan novel berikut :
………………………………………………………………………………………………………………………………
Azzam masih di dapur, setelah mengeluarkan daging dari freezer, ia melihat beberapa alat dapur belum dicuci. Ia tergerak untuk mencucinya. Ini semestinya tugas Fadhil. Karena hari ini yang bertugas masak adalah Fadhil. Namun agaknya Fadhil kelelahan habis bertanding di Nadi Syabab. Ketika sedang asyik mencuci panci yang biasa digunakan untuk menyayur, Ali muncul dan memanggilnya,
"Kang Azzam, ayo ke depan. Kita makan kibdah dulu.
Fadhil beli kibdah untuk ganjal perut!"
"Wah boleh juga. Oh ya, minumnya sudah ada? Kalau belum ada biar saya masak air sekalian." Tukas Azzam sambil merampungkan cuciannya.
"Oh ya Kang belum," jawab Ali.
Azzam mempercepat kerjaannya. Sebelum meninggalkan dapur terlebih dahulu ia meletakkan panci yang berisi air di atas kompor yang menyala. Mahasiswa Indonesia di Cairo memang tidak lazim memiliki termos penyimpan air panas. Sebab mereka biasa minum teh khas Mesir. Teh itu lebih enak bila disedu dengan air yang masih mendidih. Jika tidak begitu, rasanya kurang mantap.
"Wah beli kibdah banyak sekali Dhil," kata Azzam sambil duduk di samping Fadhil. Nanang, dan Ali juga sudah duduk mengitari kibdah yang diletakkan begitu saja di atas karpet beralaskan koran.
"Ya Kang, ini sekaligus syukuran. Tadi saya mencetak dua gol dalam pertandingan," jawab mahasiswa dari Aceh itu dengan wajah berseri.
"Berarti KMA menang dong?" tanya Azzam sambil mengambil satu kibdah.
"KMA memang menang dipermainan. Kami menguasai bola. Tapi KEMASS ternyata mampu menjebol gawang kami dengan dua gol. Jadi skornya 2-2."
"Wah pasti seru tadi."
"Seru banget!" sahut Ali, "Apalagi dua gol KEMASS itu yang mencetak aku. Ali Mustafa El Plajuwi!" sambung Ali sambil membusungkan dada.
"Ali tadi memang boleh. Aku salut!" Fadhil mengakui kehebatan Ali.
"Yang penting mana syukurannya untuk dua gol. Yang mencetak satu gol saja beli. "
"Beres. Setelah shalat Isya nanti aku beli firakh masywi. Yang di rumah tinggal menanak nasi saja!" jawab Ali.
"Mantap. Syukran Li!" teriak Fadhil girang. Bagaimana tidak girang, malam itu adalah tugas dia untuk masak. Jika lauk sudah ada, hanya tinggal menanak nasi apa su-sahnya. Itu sama saja dia terbebaskan dari tugasnya. Dan ia bisa beristirahat melepas lelah.
"Ngomong-ngomong Nasir ke mana kok belum pulang?" tanya Azzam sebagai yang dituakan.
"Nasir tadi pamit tidak pulang. Dia ada urusan ke Tanta katanya. Hafez juga sama. Ia bilang menginap di Kata-mea" jelas Nanang. (Habiburrahman, 2008:230-232)

Pak Ali adalah sopir dari Kedubes. Ia adalah sosok yang sabar dan bijaksana. Ia merupakan orang tua yang perhatian kepada orang yang lebih muda darinya, sebagaimana tercermin dalam kutipan novel di bawah ini:
………………………………………………………………………………………………………………………………
Azzam dan Pak Ali melanjutkan perjalananke kedai tha'miya. Romi semakin mendekati pantai. Udara belum hangat betul. Orang yang berenang di pantai bisa dihitung dengan jari. Saat itu belum banyak pengunjung yang datang. Sebab masih ada sisa-sisa musim dingin. Pantai itu akan menjadi sangat ramai ketika libur musim panas datang.
"Mas Khairul. Saya sarankan kau damai saja sama putrinya Pak Dubes itu. Tidak usah cari penyakit. Aku tidak tahu masalahmu dengannya. Tapi damai adalah hal yang disukai oleh fitrah umat manusia di mana saja." Saran Pak Ali.
Azzam lalu menjelaskan kejadian tadi malam setelah pulang dari El Muntazah. Tentang telpon Eliana. Tentang hadiah spesial berupa ciuman khas Prancis. Tentang jawabannya. Tentang pemutusan pembicaraan secara sepihak darinya.
Pak Ali mendengarkan sambil berjalan.
"Ada saran tambahan Pak Ali?" Tanya Azzam sambil mensejajarkan langkahnya dengan langkah Pak Ali yang agak lambat.
"Saranku. Sebaiknya kau minta maaf. Lalu jelaskan dengan detil dan baik-baik kenapa menolak ciuman itu. Tidak usah dihadapi dengan emosi. Api bertemu api akan semakin panas. Emosi lebih banyak merugikannya daripada menguntungkannya.
"Aku sangat yakin dia sangat marah Pak. Trus bagaimana cara meredamnya?"
"Gampang. Hati wanita mudah diluluhkan. Belikan dia hadiah kejutan. Dia akan merasa senang. Rasa senang bisa meredam amarah. Sebab amarah itu datang biasanya karena rasa tidak senang."
"Enaknya hadiahnya apa ya Pak?"
"Apa saja yang bisa didapat pagi ini. Tidak harus mahal." (Habiburrahman, 2008 :105-106)

d. Latar atau Setting
Latar atau setting dalam sebuah karya fiksi, seperti novel, berupaya memberikan gambaran kepada pembaca tentang tempat, waktu, dan suasana terjadinya cerita. Berdasarkan hasil analisis terhadap novel Ketika Cinta Bertasbih ditemukan latar kehidupan mahasiswa Indonesia di Mesir.
Dari segi tempat, novel Ketika Cinta Bertasbih memilih Sebuah kota di Mesir, bernama Cairo. (seperti Alexandria, Universitas Al Azhar). Sebagian cerita juga bersetting di salah satu pantai di Mesir. . Latar tempat ini dapat dicermati melalui penggalan berikut ini.
………………………………………………………………………………………………………….
Siang itu sebelum jam dua belas, semua orang dalam rombongan “Pekan Promosi Wisata dan Budaya Indonesia di Alexandria” sudah keluar dari hotel. Tepat jam setengah satu mereka sudah bergerak meninggalkan Alexandria menuju Cairo. Rombongan yang terdiri atas empat puluh lima orang itu meluncur ke Cairo denga dua mobil mewah KBRI, satu bus dan satu mobil barang. (Habiburrahman, 2008:117)
……………………………………………………………………………………………………….
Kota Alexandria sore itu tampak begitu memesona. Cahaya mataharinya yang kuning keemasan seolah menyepuh atap-atap rumah, gedung-gedung, menara-menara, dan kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di jalan. Semburat cahaya kuning yang terpantul dari riak gelombang di pantai menciptakan aura ketenangan dan kedamaian.
Di atas pasir pantai yang putih, anak-anak masih asyik bermain kejar-kejaran. Ada juga yang bermain rumah-rumahan dari pasir. Di tangan anak-anak itu pasir-pasir putih tampak seumpama butiran-butiran emas yang lembut berkilauan diterpa sinar matahari senja.
…………………………………………….....
Dari jendela kamarnya yang terletak di lantai lima Hotel Al Haram, ia menyaksikan sihir itu. Di matanya, Alexandria sore itu telah membuatnya seolah tak lagi berada di dunia. Namun di sebuah alam yang hanya dipenuhi keindahan dan kedamaian saja. (Habiburrahman, 2008:43).

……………………………………………...…………………………………………………….
Usai shalat Zuhur di Masjid Al Azhar, Azzam melangkahkan kakinya menuju kampus Fakultas Ushuluddin, Al Azhar University. Ia keluar masjid lewat pintu utara. Menyusuri trotoar Al Azhar Street yang melintas tepat di utara masjid. Jalan raya itulah yang memisahkan Masjid Al Azhar dengan kantor Grand Syaikh Al Azhar yang lama, kantor yang biasa disebut Masyikhatul Azhar. Masjid Al Azhar, Universitas Al Azhar, pasar tradisional Al Azhar, serta Mustasyfa Husein berada di sebelah selatan jalan.
Sedangkan Masyikhatul Azhar yang lama, Masjid Sayyidina Husein, Khan Khalili, dan toko buku paling populer di sekitar kampus Al Azhar yaitu Dar El Salam berada di sebelah utara jalan. Lalu lintas cukup padat. Untuk menghubungkan kawasan utara dan selatan terowongan bawah tanah yang tepat berada di sebelah barat Masjid Al Azhar. Juga ada jembatan penyebrangan yang berada di sebelah utara toko buku Dar El Salam. Kawasan ini, semuanya, dikenal dengan Maydan Husein.
Masjid Al Azhar, dan kampus Universitas Al Azhar yang lama di kenal berada di kawasan Maydan Husein. Sedangkan kampus Al Azhar yang baru termasuk rektorat Al Azhar berada di Madinat Nasr atau dikenal juga dengan sebutan Nasr City. Untuk kantor Grand Syaikh Al Azhar yang baru, berada tepat di sebelah selatan Daarul Ifta’. (Habiburrahman, 2008:167-168)

……………………………………………………………………………………………….....
Sambil menyenandungkan zikir pagi azzam berjalan di atas pasir yang lembut, ia berjalan di samping Pak Ali. Pantai Cleopatra masih sepi. Udara berkabut tipis. Desau angina laut yang berhembus terasa membelai dengan lembut relung-relung jiwa. Kedamaian yang nyaris sempurna. (Habiburrahman, 2008:83)


Dari segi waktu, novel ini menunjukkan ketika Azzam sedang menimba ilmu dan bekerja di Kairo Mesir satu tahun terakhir.
……………………………………………………………………………………………….................
Selama delapan tahun ini sejak ayah berpulang ke rahmatullah, engkau telah menunaikan kewajibanmu dengan baik. Lihatlah kami, kini adik-adikmu sudah bisa engkau banggakan. Kami sangat berterima kasih dan bangga padamu Kak. Selama ini kami tahu engkau tidak lagi memikirkan dirimu Kak. Stadimu di Al Azhar yang seharusnya bisa selesai dalam empat tahun, bahkan sampai sekarang, belum juga selesai. Padahal kau sudah sembilan tahun di mesir. Kami tahu bahwa engkau mengorbankan dirimu dan segala idealismemu demi untuk membiayai hidup dan sekolah kami. (Habiburrahman, 2008:334)


Sedangkan suasana cerita yang menonjol adalah suasana khas mahasiswa Indonesia di Al Azhar di Kairo Mesir. Kemudian digambarkan pula suasana kehidupan Azzam yang menjalani kehidupan yang begitu berat baik dari segi fisik dan mental. Jika dilihat dari segi fisik Azzam harus bekerja sampai larut malam setiap hari disaat orang lain harus istirahat ia masih berkutik dengan tempe dan adonan baksonya. Sedangkan dari segi mental. Ia dinilai sebagai mahasiswa yang tidak lulus-lulus S.1 padahal sudah sembilan tahun kuliah. Bahkan ketika akan melamar seorang Anna Althafunnisa maka prestasi akademiknya yang dinilai, seperti yang nanpak pada penggalan novel berikut:
…………………………………………………………..
………………………………………………………………. Maafkan aku Rul. Aku sarankan kau mencari yang lain saja. Mahasiswi Indonesia di Al Azhar kan banyak. Dunia tidak selebar daun kelor." Ustadz Mujab berusaha menenteramkan.
"Iya Ustadz. Tapi saya akan mencari yang sekualitas Anna Althafunnisa."
Ustadz Mujab terhenyak mendengar jawaban Khairul Azzam. Begitu mantapnya ia memasang standar. Ia seolah-olah sudah tahu persis Anna Althafunnisa.
"Apa kamu sudah pernah ketemu Anna?"
"Belum."
'Sudah pernah tahu wajahnya?"
"Belum."
"Aneh. Bagaimana mungkin kau begitu mantap memilih
Anna Althafunnisa? Bagaimana mungkin kau menjadikan Anna sebagai standar."
"Firasat yang membuat saya mantap Ustadz."
"Tapi menikah tidak cukup memakai firasat Rul. Jujur
Rul aku sangat kaget dengan standarmu ini. Baiklah aku buka sedikit. Anna adalah bintangnya Pesantren Daaru Quran. Sejak kecil ia menghiasi dirinya dengan prestasi, dan prestasi selain dengan akhlak mulia tentunya. Ia menyelesaikan S.1-nya di Alexandria dengan predikat mumtaz. Kalau ingin memiliki isteri seperti dia. Cobalah kau menstandarkan dirimu dulu seperti dia. Kalau aku jadi orang tuanya, dan ada dua mahasiswa Al Azhar yang satu serius belajarnya yang satu hanya sibuk membuat tempe. Maaf Rul, pasti aku akan memilih yang lebih serius belajamya. Kau tentu sudah paham maksudku. Bukan aku ingin menyinggungmu, tapi aku ingin kau memperbaiki dirimu. Aku ingin kau lebih realistis. Cobalah kauraba apa opini di Cairo tentang dirimu."
"Iya Ustadz. Terima kasih. Ini akan jadi nasihat yang sangat berharga bagi saya." Jawab Azzam dengan mata berlinang. Kalimat Ustadz Saiful Mujab sangat berat ia terima. Ia sangat tersindir. Tapi ia tidak bisa berbuat apa apa. Dengan bahasa lain, sebenamya Ustadz Mujab seolah ingin mengatakan bahwa dia sama sekali "tidak berhak" melamar Anna. Atau lebih tepatnya sama sekali "tidak layak" melamar Anna.Hanya mereka yang berprestasi yang berhak dan layak melamarnya. (Habiburrahman, 2008: 125-126)


e. Amanat
Berdasarkan hasil analisis, ditemukan makna yang terkandung di dalam novel Ketika Cinta Bertasbih adalah tentang keikhlasan dalam menjalani hidup. Artinya, untuk memperoleh hidup dan kehidupan yang tenang, bahagia, dan damai diperlukan tatanan atau aturan yang telah diajarkan baik oleh tuntunan agama maupun adapt atau tradisi yang terpelihara di tengah-tengah masyarakat. Hal ini tergambar pada nasib atau perjalanan hidup Azzam yang ikhlas dengan kehidupannya, ia menjadi tulang punggung keluarganya setelah sang ayah meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Selain itu dalam novel ini juga banyak ajaran Islam yang terdapat di dalamnya. Waktu bertasbih: siang, malam, senja, dan pagi. Semua benda yang ada, pun bertasbih: matahari, udara, gelombang. Semuanya menyucikan dan membesarkan Allah, Sang Pencipta makrokosmos. Tampaknya, pengarang dengan nyata ingin melawan realitas kehidupan negatif kini bukanlah modern, tetapi zaman jahiliyah seperti menganggap aneh perbuatan positif: kejujuran, insan yang mengagungkan Allah, manusia berbuat baik, dan nyaris semua pemikiran positif lainnya. Bukan itu saja, pengarang juga mengutip Alquran seperti QS Lukman (31: 29, 31), Al Anbiyaa (21:22), Al Ala (87:17), An Najm (53: 1-6, 31), dan Hadis. Setiap napas, ruh, dan geliat dalam kehidupan digambarkan terfokus kepada Allah, Sang Pencipta. Novel ini menggali secara rinci kehidupan yang sebenarnya di mata Tuhan, harmonisasi yang saling menguntungkan dan menyelamatkan, saling memperhatikan, saling menggapai kemaslahatan, bukan saling merugikan. Semua muatan novel ini mendekatkan diri kepada tuhan, terfokus kepada tuhan, mengingatkan kita pada tuhan, dan menyarankan agar kita selalu berhubungan dengan tuhan. Ini suatu pesan yang amat dalam kepada pembacanya.

f. Sudut Pandang
Sudut pandang atau pusat pengisahan atau disebut juga pint of view merupakan suatu cara sebuah cerita dikisahkan. Menurut definisi tersebut, maka dari hasil analisis terhadap novel Ketika Cinta Bertasbih 1 dapat dikemukakan bahwa sudut pandang yang dipergunakan adalah pengarang sebagai pengamat atau orang ketiga.
Sudut pandang atau pusat pengisahan tersebut menempatkan pengarang, dalam hal ini Habiburrahman El Shirazy, sebagai pengamat yang berada di luar cerita dan sekaligus sebagai narator yang menjelaskan semua peristiwa yang berlangsung di dalam cerita. Sebagaimana tercermin pada penggalan cerita di bawah ini.
………………………………………………………………………………………………………………………..
Pagi itu suasana hotel sudah terasa sangat panas bagi Eliana. Ia menanyakan keberadaan Azzam kepada semua orang Indonesia. Para mahasiswa, rombongan Penari Saman, para staf KBRI, bahkan ayahnya sendiri. Semua menjawab tidak tahu pasti. Ada yang menjawab mungkin sedang jalan-jalan di Pasar El Manshiya. Ada yang menjawab mungkin sedang mencari sesuatu di Abu Qir. Ada yang menjawab mungkin sedang ziarah ke Masjid Nabi Daniyal. Ada yang menjawab mungkin sedang renang di pantai. Semua jawaban tidak ada yang memuaskannya. Ia ingin segera bertemu dengan pemuda tidak tahu diuntung itu. Ia ingin segera menumpahkan segala murkanya. Ia ingin segera melumatnya jika bisa.
Sementara Azzam dan Pak Ali berjalan santai menelusuri pantai. Azzam melepas sandalnya dan membiarkan kakinya telanjang menginjak pasir pantai yang lembut.(Habiburrahman, 2008 :102) ……………………………………………………………………………………………………………………….
Gadis itu berjalan dengan hati berselimut cinta. Hatinya berbunga-bunga. Siang itu, Cairo ia rasakan tidak seperti biasanya. Musim semi yang sejuk, matahari yang ramah, serta senyum dari Profesor Amani saat memberinya ucapan selamat dan doa barakah. Semua melukiskan suasana indah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasakan begitu dalam rahmat dan kasih sayang Allah kepadanya.
Ia berjalan dengan hati berselimut cinta. Kedua matanya basah oleh air mata haru dan bahagia. Itu bukan kali pertama ia menangis bahagia. Ia pernah beberapa menangis bahagia. (Habiburrahman, 2008:149)

g. Gaya Bahasa
Gaya bahasa atau style merupakan teknik atau cara pengarang mengungkapkan sesuatu di dalam ceritanya dengan memilih bahasa yang indah dan menarik. Bahasa yang indah dan menarik dapat berupa ungkapan dan peribahasa.
Berdasarkan hasl analisis, ditemukan penggunaan gaya bahasa atau style sebagai berikut:
1) Gaya bahasa
a) Personifikasi
(1) Ketika Cinta Bertasbih
Judul novel cerita ini menggunakan majas personifikasi yaitu digambarkan cinta mampu melafazkan kalimat-kalimat tasbih “Alhamdulillah” seperti manusia
(2) Senja bertasbih di Alexandria
……………………………………………………………………………………………………SENJA BERTASBIH
DI ALEXANDRIA
Di matanya, Kota Alexandria sore itu tampak begitu memesona. Cahaya mataharinya yang kuning keemasan seolah menyepuh atap-atap rumah, gedung-gedung, menara-menara, dan kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di jalan. Semburat cahaya kuning yang terpantul dari riak gelombang di pantai menciptakan aura ketenangan dan kedamaian.(Habiburrahman, 2008 :39)


(3) Ombak berbuih putih, bergelombang naik turun, berkejar-kejaran.
………………………………………………………………………………………………………
Di matanya, Kota Alexandria sore itu tampak begitu indah.Ia memandang ke arah pantai. Ombaknya berbuih putih bergelombang naik turun berkejar kejaran menampakkan keriangan yang sangat menawan. Semilir angin mengalirkan kesejukan. Suara desaunya benar-benar terasa seumpama desau suara zikir alam yang menciptakan suasana tenteram. (Habiburrahman, 2008:40)

(4) Matahari terus berjalan mendekati peraduannya
(5) Ombak datang silih berganti seolah menyapa dan menciumi pasir-pasir pantai.
………………………………………………………………………………………………………
Matahari terus berjalan mendekati peraduannya. Sinarnya yang kuning keemasan kini mulai bersulam kemerahan. Ombak datang silih berganti seolah menyapa dan menciumi pasir-pasir pantai yang putih nan bersih. Terasa damai dan indah. Menyaksikan fenomena alam yang dahsyat itu Azzam bertasbih, "Subhanallah. Maha Suci Allah yang telah menciptakan alam seindah ini." (Habiburrahman, 2008 :46)

(6) Alam bertasbih, siang, malam, senja, dan pagi bertasbih. Matahari, laut ombak. Semua alam yang ada disemesta ini bertasbih menyucikan asma Allah
………………………………………………………………………………………………………Ya, alam bertasbih dengan keindahannya. Alam bertasbih dengan keteraturannya. Alam bertasbih dengan pesonanya. Segala keindahan, keteraturan dan pesona alam bertasbih.
……………………………………………….
Siang malam, senja, dan pagi bertasbih. Matahari, udara, laut, ombak dan pasir bertasbih. Semua benda yang ada di alam semesta ini bertasbih, menyucikan asma Allah Semua telah tahu bagaimana cara melakukan shalat dan tasbihnya. Dengan sinarnya, matahari bertasbih di peredarannya. Dengan hembusannya udara bertasbih di alirannya. Dengan gelombangnya ombak bertasbih di jalannya. Semua telah tahu bagaimana cara menunjukan tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Kuasa. (Habiburrahman, 2008:46-47)

(7) Purnama itu seolah tersenyum dan bertasbih bersama bintang-bintang dan angin malam
………………………………………………………………………………………………………
“Tidak! " Jawab Azzam sambil tersenyum. Azzam lalu memandang bulan purnama yang bersinar terang di atas laut. Purnama itu seolah tersenyum dan bertasbih bersama bintang-bintang dan angin malam. Azzam tak mau tahu apa perasaan Eliana saat itu, yang penting ia merasa menang.
"Ah. Kau tidak jujur itu Mas! Ayo jujur sajalah!" Protes Pak Ali dengan suara agak keras.
Azzam hanya tersenyum. Dan diam. Cukup dengan diam ia sudah menang. (Habiburrahman, 2008:62)

(8) Suara itu nyaring bagai burung camar terbang ke tengah laut. Dan mencumbui laut dengan mesra
(9) Suara suci itu bergerak dengan lembut dan cepat
…………………………………………………………………………………………………...
Suara azan menggema, memantul dari gedung ke gedung. Menyusup masuk ke rumah-rumah menggugah jiwa jiwa yang lelap. Suara itu nyaring bagaai burung camar, terbang ke tengah laut. Dan mencumbui laut dengan mesra. Shalat itu lebih baik dan tidur. Shalat itu lebih baik dari tidur.
Allahu akbar
Allahu akbar.
Laa ilaaha illallah.
Suara suci itu bergerak dengan lembut dan cepat. Menyapa alam. Menyapa pasir-pasir di pantai. Menyapa kerikil-kerikil. Menyapa aspal. Menyapa pohon-pohon kurma. Menyapa embun-embun.Menyapa ombak yang berdesir. Menyapa gelombang yang naik turun. Menyapa kabut yang lembut. Menyapa udara. Menyapa, alam semesta. Menyapa apa saja. Semuanya menjawab. Semuanya shalat. Semuanya menyucikan dan mengagungkan asma Allah. Semuanya bertakbir kecuali yang tetap tidur. (Habiburrahman, 2008:80-81)

(10) Sebuah menara mengumandangkan azan
(11) Matahari muncul seolah tersenyum pada bumi
(12) Jari-jarinya menari
(13) Angin musim semi mencumbui sungai Nil dengan mesra
(14) Hati berselimut cinta
………………………………………………………………………………………………………
Gadis itu berjalan dengan hati berselimut cinta. Hatinya berbunga-bunga. Siang itu, Cairo ia rasakan tidak seperti biasanya. Musim semi yang sejuk, matahari yang ramah, serta senyum dari Profesor Amani saat memberinya ucapan selamat dan doa barakah. Semua melukiskan suasana indah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasakan begitu dalam rahmat dan kasih sayang Allah kepadanya.
Ia berjalan dengan hati berselimut cinta. Kedua matanya basah oleh air mata haru dan bahagia. Itu bukan kali pertama ia menangis bahagia. Ia pernah beberapa menangis bahagia. (Habiburrahman, 2008:149)

b) Perumpamaan
(1) Gadis yang di matanya seumpama permata safir .
…………………………………………………………………………………………………….
Gadis yang di matanya seumpama permata safir yang paling indah. Gadis itu adalah kilau matahari di musim semi. Sosok yang sedang menjadi buah bibir di kalangan mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Mesir. Gadis yang pesonanya dikagumi banyak orang. Dikagumi tidak hanya karena kecantikan fisiknya, tapi juga karena kecerdasan dan prestasi-prestasi yang telah diraihnya. Lebih dari itu, gadis itu adalah putri orang nomor satu bagi masyarakat Indonesia di Mesir. (Habiburrahman, 2008:41)



c) Hiperbola
(1) Akan mengobarkan bara asmara yang mungkin susah payah kau padamkan
…………………………………………………………………………………………………….… Bagi yang lain mungkin tidak masalah, tapi bagimu menyantap masakannya akan mengobarkan bara asmara yang mungkin susah payah kau padamkan. Jika kau nekat berterus terang pada Fadhil saat ini, percayalah kau bisa merusak segalanya. Kau bisa merusak dirimu sendiri. Merusak hubunganmu dengan Fadhil. Bahkan juga bisa merusak Cut Mala." (Habiburrahman, 2008:143)

(2) Ulu hatinya seperti tertusuk paku
………………………………………………………………………………………………………
Ia terus melangkah menuju mushala. Ada yang menyesak dalam dada. Kabar adanya ceramah Dr. Yusuf Al Qardhawi yang datang dari Qatar bersama Dr. Murad Wilfred Hofmann di Heliopolis membuncahkan ke-inginannya untuk hadir, tapi ia merasa itu sulit. Ulu hatinya seperti tertusuk paku. Pedih dan ngilu. Ia harus bersabar dengan pekerjaan rutinnya mengantar tempe ke beberapa tempat. (habiburrahman, 2008:181)

(3) Kakinya seperti tidak menginjak bumi. Ia seperti melayang.
(4) Langit seolah runtuh menimpa kepalanya
(5) Hatinya bagai diiris-iris silet
2) Peribahasa
a) Siapa menanam dia mengetam.
b) Matahari kebahagian sedang bersinar terang dihatinya
c) ibarat pungguk merindukan bulan
………………………………………………………………………………………………………
Dan Anna Althafunnisa. Ah, jika ia terkena AIDS, keinginannya menyunting Anna ibarat pungguk merindukan bulan. Mustahil Anna mau menerimanya. (Habiburrahman, 2008:192)

`
3) Ungkapan
a) Buah bibir
b) makan asam garam
c) pagi buta
d) seribu tanda tanya
e) sebagian hati

Di samping analisis secara parsial seperti uraian dari tema hingga gaya bahasa di atas, kajian tentang struktur intrinsik novel Ketika Cinta Bertasbih juga dapat dilakukan secara keseluruhan. Melalui analisis secara keseluruhan ini akan dapat diungkapkan keutuhan dan kekuatan jalinan cerita dari tema hingga gaya bahasa yang telah diwujudkan oleh pengarangnya.
Dari analisis secara keseluruhan terhadap novel Ketika Cinta Bertasbih dapat dikemukakan bahwa novel ini merupakan salah satu novel yang pada zaman ini termasuk novel yang bermutu dan banyak mengandung pendidikan dan ajaran tentang arti kehidupan yang sebenarnya. Dikatakan demikian karena pengarang dalam menggambarkan cerita dari awal hingga akhir cerita sangat piawai dalam mengembangkan ceritanya.
Dari sudut tema, pengarang mengangkat tentang pengorbanan dan cinta serta penggambaran tentang Negara Mesir.
Selain itu, dalam novel Ketika Cinta Bertasbih juga diperoleh pengaluran secara kualitas yaitu alur longgar, secara kuantitas yaitu alur ganda, dan secara urutan waktu yaitu alur tidak lurus flas back. Kemudian novel ini diperkuat pula dengan pengaluran yang memperhatikan akhir cerita dan keadaan tokoh. Dari segi akhir cerita, novel Ketika Cinta Bertasbih memiliki alur terbuka yaitu pengarang tidak menyelesaikan sendiri ceritanya dan dari segi tokoh, novel ini menggunakan alur kompleks yaitu melibatkan suatu kelompok tokoh.
Selanjutnya, untuk memperkuat cerita, pengarang memilih penokohan atau perwatakan yang datar dan bulat. Juga dengan penggambaran tokoh yang teertutup dan terbuka. Penggarapan penokohan atau perwatakan seperti itu menunjukkan betapa tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita menjadi kuat dalam menjalan cerita.
Kemudian cerita dibingkai dengan latar yang benar-benar sesuai untuk melukiskan seluruh keadaan di sekeliling para tokoh. Di dalamnya terdapat latar tempat seperti Kairo, Kampus Al Azhar, Alexandria.
Begitu pula dengan pengambilan latar suasana seperti kehidupan mahasiswa Indonesia di Al Azhar Kairo Mesir yang sedang menuntut ilmu di negeri para Nabi itu yang menjadikan cerita ini lebih nyata.
Rangkaian tema, alur, penokohan/perwatakan, dan latar di atas, mengarahkan cerita menjadi lebih berisi dan berkesan. Sehingga amanat yang ingin disampaikn oleh pengarang tentang kebenaran dalam hidup. menjadi sangat terasa. Artinya, untuk memperoleh hidup dan kehidupan yang tenang, bahagia, dan damai diperlukan tatanan atau aturan yang telah diajarkan baik oleh tintunan agama maupun adat/tradisi yang terpelihara di tengah-tengah masyarakat.
Selanjutnya dengan penggunaan sudut pandang pengarang sebagai pengamat atau orang ketiga menunjukkan seolah-seolah kita berhadapan langsung dengan pengarang yang sedang bercerita. Selain itu, penggunaan pusat pengisahan atau poin of view pengarang sebagai pengamat atau oarng ketiga memberikan gambaran kepada pembaca bahwa tak satupun sudut atau ruang dalam cerita yang luput dari kisah dan narasi pengarangnya.
Terakhir dari sudut gaya bahasa, ternyata pengarang dalam mengungkapkan ide cerita dalam novel Ketika Cinta Bertasbih menempatkan style atau gaya bahasa yang cukup variatif. Artinya, dalam novel tersebut penagarang menggunakan gaya bahasa yang dapat memperkuat makna yang ingin disampaikan melalui ceritanya. Adapun gaya bahasa yang muncul dalam novel Ketika Cinta Bertasbih antara lian berupa gaya bahasa, peribahasa, dan ungkapan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan bahwa ketujuh unsur yang membangun struktur dalam (intrinsik) novel Ketika Cinta Bertasbih, secara keseluruhan telah ditata dan dijalin dengan cermat oleh pengarang. Sehingga isi dan tujuan cerita menjadi lebih hidup dan bermakna.

4.1.2 Pandangan Sosial Kelompok Pengarang
Novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy adalah novel yang muncul sekitar tahun 2007. Itu berarti novel ini masuk ke dalam karya sastra kontemporer atau karya sastra modern.
Secara umum, pengarang yang tergolong ke dalam Angkatan Balai Pustaka memiliki cerita dengan karakteristik sebagai berikut: (1) pertentangan antara kaum tua dan kaum muda, (2) persoalan yang diangkat adalah masalah kawin paksa, permaduan, dan lainnya, (3) kehidupan kebangsaan belum maju atau masih kedaerahan, (4) bahasa percakapan dimasukkan di antara baca tulisan, (5) terdapat analisis jiwa, (6) cerita tentang zaman sekarang, (7) kebangsawanan pikiran kontra kebangsawanan daerah, dan (8) memiliki pandangan hidup yang baru.
Berdasarkan uraian di atas, maka analisis terhadap novel Ketika Cinta Bertasbih memberikan beberapa temuan yang memiliki kesesuaian dengan karakteristik novel yang muncul pada era 20-an. Adapun beberapa kekhasan yang ditemukan dalam novel Ketika Cinta Bertasbih antara lain; pertama, persoalan yang diangkat adalah persoalan kawin paksa. Hal itu dapat ditemukan pada bagian awal cerita yaitu ketika Men Negara meninggalkan suami dan bayi kecilnya, Sukreni.
Men Negara memilih I Kompiang, seorang laki-laki yang masih keluarga suaminya I Nyoman Raka. Hal itu dilakukan Men Negara karena lebih mencintai I Kompiang daripada I Nyoman Raka. Namun karena pengaruh lingkungan sekitarnya, Men Negara menerima I Nyoman Raka. Kemudian ia nekat meninggalkan I Nyoman Raka dan hidup dengan laki-laki lain, I Kompiang.
Kedua, sebagaimana cerita-cerita Angkatan Balai Pustaka lainnya, dalam novel Ketika Cinta Bertasbih ditemukan kondisi kebangsaan yang belum maju. Artinya, tokoh utama dan tokoh-tokoh pendukung lainnya tidak digambarkan sebagai orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Kalaupun ada pandangan yang cemerlang, itu karena mereka berasal dari keluarga yang berkasta atau berstrata social tinggi. Bukan karena ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan melalui bangku sekolah.
Di samping itu, novel Ketika Cinta Bertasbih menampakan kisah yang masih dibungkus dalam situasi kedaerahan. Fenomena itu dapat dijumapai pada bagian cerita yang mengisahkan kehidupan tokoh Sukreni yang sangat terikat dengan adat atau tradisi. Sehingga daripada harus menanggung malu, ia lebih memilih mengembara tanpa kepastian. Hal lain yang memiliki nuansa kedaerahan adalah tradisi masyarakat Mesir yang akrab dengan kebiasaan minum tuak/arak dan abung ayam.
Ketiga, karakteristik pengarang Angkatan 20-an yang menonjol dalam novel Ketika Cinta Bertasbih adalah tentang analisis jiwa. Hal ini tampak pada gaya Panji Tisna dalam menggambarkan kejiwaan tokoh-tokoh di dalam ceritanya. Mulai dari jiwa Men Negara yang melawan keluarganya ketika lari dengan I Kompiang. Lalu ia berobsesi memperolah kebendaan dengan mengorbakan anak kandungnya sendiri. Kemudian kejiwaan tokoh utama, Sukreni, yang secara terus-menerus diterpa badai kehidupan yang sangat berat.
Di sisi lain, pengarang juga memunculkan jiwa hero atau pahlawan, yang senantiasa memberikan pencerahan terhadap tokoh lain. Jiwa tersebut tampak pada tokoh I Gde Swamba. Tokoh ini sejak awal hingga akhir ditampilkan dengan konsisten sebagai seorang yang tetap pendiriannya dan selalu memberikan pengertian yang bijak kepada tokoh utama Sukreni.
Keempat, pengarang melalui novel Ketika Cinta Bertasbih telah mengangkat realita kekinian. Artinya, pengarang Habiburrahman El Shirazy sebagaimana pengarang lainnya telah berani meninggalkan kebiasaan lama dengan mengaktualisasikan realitas kehidupan yang dialami pada saat itu. Seperti persoalan perbedaan kasta dalam masyarakat Mesir, persoalan kebiasaan minum arak dan abung ayam, persoalan kriminalitas, persoalan pelecehan seksual, dan lain-lain.
Kelima, dalam novel Ketika Cinta Bertasbih, pengarang menampakkan sebuah pandangan baru. Pandangan yang membedakannya dengan cerita-cerita yang bermunculan sebelumnya. Adapun pandangan baru yang dapat dicermati melalui pikiran pengarang dalam novel tersebut adalah keinginan pengarang untuk mengungkapkan kebenaran melalui tatanan kehidupan yang normatif, mulai dari persoalan kehidupan yang dianggap sederhana atau kecil sampai dengan persoalan-persoalan kehidupan yang besar dan kompleks.

4.1.3 Kondisi Eksternal
Analisis strukturalisme genetik novel Ketika Cinta Bertasbih, selain memperhatikan struktur intrinsik baik secara parsial maupun secara keseluruhan serta pandangan sosial kelompok pengarang, juga mengangkat latar belakang sejarah, zaman, dan sosial masyarakatnya.
Berdasarkan hal itu, maka Habiburrahman El Shirazy dalam karyanya tentu tidak dapat lepas dari pengaruh situasi dan kondisi masyarakat sekitarnya. Dalam hal ini, karakteristik ideologi, politik, ekonomi, dan sosial budaya masyarakat Mesir sangat berpengaruh terhadap kekhasan karya Habiburrahman El Shirazy.
Kecenderungan tersebut dilatarbelakangi oleh adanya suatu asumsi bahwa tata kemasyarakatan bersifat normatif. Artinya memiliki unsur-unsur pengatur yang harus ditaati atau dipatuhi. Pandangan, sikap, dan norma-norma yang ada dipengaruhi oleh tata kehidupan masyarakat Mesir yang berlaku. Ini tentu menjadi faktor yang turut menentukan apa yang mesti ditulis pengarang, untuk siapa karya sastra itu diciptakan, dan apa tujuan yang dihajatkan melaui tulisan tersebut.
Bertolak dari uraian di atas, maka analisis terhadap novel Ketika Cinta Bertasbih memberikan beberapa catatan tentang adanya pengaruh eksternal pengarang terhadap karyanya. Pertama, karakteristik ideologi. Hal ini tampak jelas dari permasalahan yang diungkapkan Habiburrahman El Shirazy dalam novel Ketika Cinta Bertasbih yaitu tentang pengorbanan dan kerja keras. Disertai dengan ajaran-ajaran Islam tentang bagaimana menjalai hidup ini.
Adapun karakteristik ideologi yang dimaksud antara lain: ajaran tentang tata cara prosesi kematian dan pembagian warisan yang disesuaikan dengan tuntunan Hindu. Di samping itu, muncul juga tatanan dalam kehidupan sehari-hari yang harus dijalani secara normatif.
Kedua, karakteristik politik. Sebagaimana di ketahui bahwa seorang Habiburrahman El Shirazy adalah dari kalangan bangsawan yang memegang tampuk pimpinan (raja), tentu memberikan pengaruh terhadap isi ceritanya. Hal itu dapat dicermati melalui permasalahan yang diangkat dan bagaimana solusi yang ditawarkan.
Dalam novel Ketika Cinta Bertasbih Habiburrahman El Shirazy mengangkat persoalan kriminalitas yang mewabah di tengah masyarakat. Kemudian karena ia seorang raja, solusi yang diberikan berupa penggambaran seorang tokoh pelindung dan pengayom masyarakat yang memiliki eksestensi tegas, kuat, dan berani. Ini telah didekripsikan melalui penampilan tokoh I Gusti Made Tusan yang berupaya menumpas kejahatan I Gustam. Kalaupun pada akhirnya tokoh Made Tusan ikut meninggal dalam proses penumpasan tersebut.
Ketiga, karakteristik ekonomi. Karakteristik ini cukup jelas mewarnai novel Ketika Cinta Bertasbih. Keadaan masyarakat Mesir khususnya dari kalangan bawah atau strata sosial rendah akan mengalami kesulitan ekonomi dibandingkan dengan masyarakat dari kalangan bangsawan.
Beberapa catatan dari hasil analisis menunjukkan indikasi kearah tersebut. Kehidupan para tukang panjat kelapa misalnya. Dalam novel Ketika Cinta Bertasbih digambarkan dari kalangan masyarakat biasa. Lalu yang ditampilkan sebagai tokoh polisi adalah seorang yang cukup mampu ekonominya. Termasuk juga kemapanan tokoh I Gde Swamba.
Keempat, karakteristik sosial budaya. Karakteristik ini pun tampak jelas mempengaruhi isi novel Ketika Cinta Bertasbih. Misalnya, budaya potong babi. Masyarakat Mesir sebagai komunitas mayoritas Hindu, menghalalkan pemeluknya mengkonsumsi daging babi. Akan tetapi dalam novel tersebut, pengarang melukiskan kebolehan itu dengan syarat harus memiliki izin terlebih dahulu. Sehingga tidak ada pemotongan secara liar demi terpeliharanya ekosistem binatang secara umum.
Karakteristik sosial budaya lainnya yang mempengaruhi novel Habiburrahman El Shirazy adalah persoalan tradisi atau kebiasaan minum arak dan sabung ayam. Ini menunjukkan betapa pengarang mengharapkan adanya kesadaran anggota masyarakatnya bahwa kebiasaan itu tidak dapat memberikan manfaat kepada para pelakunya. Bahkan seMesirknya akan mendatang kerugian dan kemudaratan bagi pelakunya.
Berdasarkan uraian di atas, maka pengaruh eksternal yang ada di tengah-tengah masyarakat Mesir cukup kuat memberikan pengaruh terhadap seluruh isi novel Ketika Cinta Bertasbih. Dalam hal ini, pengarang Habiburrahman El Shirazy secara langsung telah mengakumulasikan realitas kehidupan masyarakat Mesir dalam berbagai karekteristik seperti ideology, politik, ekonomi, dan sosial budaya.
4.1.4 Pandangan Dunia (world vition)
Pandangan dunia atau world vition yang ditampilkan pengarang melalui problematic hero merupakan suatu struktur global yang bermakna. Pandangan dunia ini bukan semata-mata fakta empiris yang bersifat langsung tetapi merupakan suatu gagasan, aspirasi, dan perasaan, yang dapat mempersatukan suatu kelompok sosial masyarakat.
Pandangan dunia di atas memiliki bentuk konkret di dalam karya sastra, dalam hal ini novel, yakni bukan fakta. Ia tidak mempunyai eksistensi objektif namun merupakan eksistensi teoritis dari keadaan dan kepentingan suatu kelompok masyarakat tertentu.
Berdasarkan hasil analisis terhadap novel Ketika Cinta Bertasbih dapat dikemukakan bahwa pandangan dunia atau world vition yang ingin dimunculkan oleh Habiburrahman El Shirazy berupa gagasan, aspirasi, dan perasaan yang sangat mendambakan tatanan kehidupan masyarakat Mesir yang selalu mengikuti norma-norma agama dan adat yang diyakini kebenarannya oleh para leluhurnya.
Gagasan yang dimaksud misalnya bagaimana kelompok masyarakat berusaha dan mampu menjadikan norma agama dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Selain itu, pengarang mencoba menyadarkan pembaca akan tidak baiknya seseorang yang menyalahgunakan wewenangnya (seperti manteri polisi I Gusti Made Tusan). World vition lainnya juga dapat dicermati melalui keserakahan dan kelalaian seorang ibu dalam mendidik anak akan membawa malapetaka baik bagi diri anak maupun ibi itu sendiri.
Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa pandangan dunia dalam novel Ketika Cinta Bertasbih benar-benar telah ditunjukkan oleh Habiburrahman El Shirazy dengan mengangkat beberapa visi atau pandangan yang secara teoritis menggambarkan keadaan dan kepentingan kelompok masyarakatnya.
Yang lebih utama lagi, masyarakat Mesir dengan mayoritas pemeluk ajaran Hindu, tentu sangat meyakini akan berlakunya hukum karma. Artinya seseorang yang ingin memperoleh kebenaran dan kebahagiaan terlebih dahulu harus melakukan kebenaran dalam hidupnya. SeMesirknya, jika seseorang melakukan suatu kejahatan atau hal yang mencelakakan orang lain, maka sudah pasti kejahatan itu akan kemMesir mencelakakan dirinya sendiri. hal itulah yang disebut dengan hukum karma.








BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil analisis strukturalisme genetik terhadap novel Ketika Cinta Bertasbih, dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Struktur Intrinsik Novel Ketika Cinta Bertasbih secara Parsial
Secara parsial, novel Ketika Cinta Bertasbih memiliki struktur inrinsik yang lengkap. Struktur tersebut meliputi tema, alur, penokohan/perwatakan, latar, amanat, sudut pandang, dan gaya bahasa.
b. Struktur Intrinsik Novel Ketika Cinta Bertasbih secara Keseluruhan
Dari analisis secara keseluruhan terhadap novel Ketika Cinta Bertasbih dapat dikemukakan bahwa novel ini merupakan salah satu novel yang bermutu karena pengarang mampu mengungkapkan tema dalam alur yang baik. Kemudian diperkuat dengan latar, penokohan / perwatakan yang cocok dengan tema cerita. Penggunaan sudut pandang orang ketiga dan style yang variatif menjadikan cerita lebih hidup sehingga amanat yang ingin disampaikan dapat terwujud.
c. Pandangan Sosial Kelompok Pengarang
Novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy adalah novel yang muncul tahun 2007. Oleh karena itu, isi novel ini sangat dipengaruhi oleh pandangan sosial kelompok pengarang yang tergabung di dalamnya yaitu: (1) Kehidupan yang islami, (2) pembangun jiwa, (3) bersifat modern, (4) bahasa percakapan dimasukkan di antara baca tulisan, (5) terdapat analisis jiwa, (6) cerita tentang zaman sekarang, (7) memiliki pandangan hidup yang baru.
d. Kondisi Eksternal
Analisis strukturalisme genetik novel Ketika Cinta Bertasbih juga mengangkat latar belakang sejarah, zaman, dan sosial masyarakatnya. Dalam hal ini, karakteristik ideologi, politik, ekonomi, dan sosial budaya masyarakat Mesir sangat berpengaruh terhadap kekhasan karya Habiburrahman El Shirazy.
e. Pandangan Dunia atau World Vition
Pandangan dunia atau world vition yang ditampilkan pengarang melalui problematic hero adalah gan mayoritas pemeluk ajaran Hindu, pengarang sangat meyakini akan berlakunya hukum karma. Artinya seseorang yang ingin memperoleh kebenaran dan kebahagiaan terlebih dahulu harus melakukan kebenaran dalam hidupnya. SeMesirknya, jika seseorang melakukan suatu kejahatan atau hal yang mencelakakan orang lain, maka sudah pasti kejahatan itu akan kemMesir mencelakakan dirinya sendiri. Hal itulah yang disebut dengan hukum karma.
5.2 Saran-Saran
Pertama, bagi para sastrawan atau pemerhati sastra diharapkan agar hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan acuan dalam menganalisis karya sastra yang lain untuk mengembangkan dan memperluas wawasan tentang karya sastra khususnya novel.
Kedua, para guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, terutama di tingkat sekolah lanjutan, hendaknya dapat menggunakan hasil penelitian ini guna memberikan pencerahan kepada siswa tentang kajian strukturalisme genetik novel.
Ketiga, menyadari betapa pentingnya analisis hasil karya sasrta sebagai media pengungkapan nilai-nilai estetik alam kehidupan, maka diharapkan adanya analisis lebih mendalam guna mengungkapkan orisinalitas karaya sastra khususnya novel-novel Habiburrahman El Shirazy.
Keempat, penelitian berupa analisis strukturalisme genetik sangat perlu dikembangkan secara berkesinambungan agar terwujud keseimbangan antara dunia pengarang dan dunia penikmat.

DAFTAR PUSTAKA

Agustien. 1990. Buku Pintar Sastra Indonesia. Semarang : CV. Aneka Ilmu.
Aminudin. 1991. Pengantar Apresiasi Sastra. Jakarta : CV. Sinar Baru.
Depdiknas. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Blai Pustaka.
Jabrohim 1994. Pengantar Sastra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Nazir, Muhammad. 1985. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia.
Nurgiantoro, Burhan. 2002. Teori Kajian Fiksi. Yogyakarta : UGM Press.
Sudjiman, Panuti. 1993. Bunga Rampai Stlistika. Jakarta : Grafiti.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1976. Pengkajian Puisi. Yogyakarta : UGM Press.
______________________. 2005. Beberapa Teori Sastra, Metode kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Semi, Atar. 1988. Kritik Sastra Sebuah Pengantar. Bandung : Angkasa.
Subagyo, Joko P. 1999. Metode Penelitian. Jakarta : PT. Rineka Ilmu.
Suryabrata, Sumadi. 2003. Metodologi Penelitian. Yogyakarta : UGM Press.
Tisna, Panji. 1995. Sukreni Gadis Mesir. Jakarta : Balai Pustaka.

Wellek, Rene dan Warren, Austin. 1995. Teori Kesusastraan. Jakarta : PT. Gramedia.

Wurajdi, 2001. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta : PT. Hamindita Graha Widia..

Zaidan, Abdul Rozak, Anita K. Rustapa, dan Hani’ah. 1996. Kamus Istilah Sastra. Jakarta : Balai Pustaka.

No Response to "ANALISIS STRUKTURALISME GENETIK NOVEL KETIKA CINTA BERTASBIH 1"

Poskan Komentar